Skandal Jiwasrayagate, Bentjok 'Gigit' Bakrie Grup

IN
Oleh inilahcom
Jumat 03 Juli 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Proses hukum dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) terus bergulir dan memasuki babak baru. Di mana, Bakrie Grup disebut-sebut masuk pusaran.

Asal muasalnya, Direktur Utama PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro, menyebut Jiwasraya memborong saham Bakrie dengan harga tak wajar. Pernyataan Bentjok, sapaan akrab Benny Tjokro ini, bertolak belakang dengan pernyataan Direktur Utama Jiwasraya, Hexana Tri Sasongko di depan Panitia Kerja (Panja) DPR.

Di mana, Hexana tidak menyebutkan saham Grup Bakrie sebagai salah satu koleksi saham Jiwasraya. Atas pernyataan tersebut, Bentjok buru-buru membuat analisa. Menurutnya, sangat tidak mungkin Hexana tak tahu kepemilikan saham Jiwasraya di Bakrie Grup. Mengingat Hexana sudah setahun lebih menjabat sebagai Direktur Utama Jiwasraya.

"Tidak mungkin (Hexana). Kalau sampai tidak tahu, maka hanya dua kemungkinan. Pertama, bodoh. Kedua, dia melindungi pelaku dengan mencari kambing hitam. Pertanyaannya, siapa yang menyuruh?" ujar Benny Tjokro, dalam tulisan tangan yang beredar di kalangan pelaku pasar, Senin (29/6/2020).

Dalam surat tersebut, Bentjok yakin betul bahwa Jiwasraya memiliki saham Grup Bakrie. Tak hanya sekadar memiliki, pihak Jiwasraya dikatakan Bentjok membeli saham Grup Bakrie tersebut pada posisi harga tinggi. Seluruh informasi tersebut menurut Bentjok ada dalam data investasi saham Jiwasraya yang dipegang oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Saat Saya diperiksa Kejaksaan Agung dan BPK, (data itu) dibuka oleh penyidik. Saya juga mengecek kebenarannya saat bertemu dengan para Direksi Jiwasraya yang menjadi tersangka. Mereka bilang benar. Jiwasraya banyak membeli saham Grup Bakrie, terutama sebelum tahun 2008," tutur Bentjok.

Pertemuannya dengan para Direksi Jiwasraya tersebut, dikatakan Bentjok, terjadi saat penjemputan, di perjalanan, di tahanan, saat menunggu siding di PN Jakarta Pusat dan juga saat diperiksa oleh BPK.

Berdasarkan data rincian investasi saham Jiwasraya, BUMN asuransi itu memang diketahui memiliki 10 saham Grup Bakrie dengan Sembilan diantaranya berstatus nyangkut, alias berada pada posisi harga terendah, yaitu Rp50 per saham, sehingga tidak bisa dijual.

Sementara satu lagi dalam posisi rugi. Ke-10 saham Grup Bakrie tersebut meliputi saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), dan Capitalinc Investment Tbk (MTFN).

Sejatinya, masalah ini pernah dilontarkan Bentjok dalam persidangan di PN Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2020). Dikatakan, dalam pemeriksaan di Kejaksaan Agung (Kejagung) dan BPK, para penyidik membuka dan menunjukkan data.
"Dari kejadian tersebut saya baru tahu bahwa saham-saham Grup Bakrie sangat banyak dan diperoleh dengan harga jauh lebih tinggi," kata Bentjok.

"Soal itu yang menutupi kan kroninya Bakrie. Memang ada yang menutupi. Dilindungi. Pokoknya terbuka dong, biar masyarakat bisa bantu buka biar tahu seluas luasnya," imbuhnya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA