Ekspor Sawit Seret, Pasar Domestik Dewa Penolong

IN
Oleh inilahcom
Kamis 09 Juli 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Tahun ini bakal menjadi tahun penuh tantangan bagi seluruh sektor bisnis. Tak terkecuali industri kelapa sawit. Tapi jangan putus asa dulu ya.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono bilang, permintaan produk sawit domestik bisa menjadi penyeimbang di tengah lesunya permintaan dunia.

Dikatakan Mukti, ketimbang April 2020, produksi CPO pada Mei mencapai 3.616 ribu ton. Atau turun 1,9%. Sementara konsumsi dalam negeri turun 1,6% menjadi 1.380 ribu ton, ekspor turun 8,3% menjadi 2.428 ribu ton. "Harga CPO masih menunjukkan penurunan dari rata-rata USD 564 pada April menjadi USD 526 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Mei," kata Mukti dalam siaran pers Gapki, Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Sedangkan nilai ekspor ikut melorot menjadi US$165 juta, dari US$1,64 miliar menjadi US$1,47 miliar. Apabila dibandingkan Januari-Mei 2019, produksi CPO dan PKO Januari-Mei 2020 adalah 19.001 ribu ton, atau 14% lebih rendah. Sedanhkan konsumsi dalam negeri sebesar 7.334 ribu ton, atau naik 3,6 %.

Untuk volume ekspor mencapai 12.736 ribu ton, atau turun 13,7%. Namun demikian, nilai ekspor naik dari US$7.995 juta menjadi US$8.437 juta. Bisa jadi lantaran harga membaik. "Produksi Mei yang lebih rendah ketimbang April 2020, diduga masih disebabkan efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman," jelasnya.

Mukti menambahkan, konsumsi dalam negeri secara total masih positif ditengah berlakunya PSBB. Salah satu peningkat konsumsi adalah oleokimia yang naik 31,4% . Konsumsi biodiesel juga meningkat sebesar 23,2%. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang konsisten dalam implementasi program B30.

Penurunan ekspor terutama terjadi pada refined palm oil yang secara umum disebabkan oleh selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil. Penurunan ekspor Mei terbesar terjadi untuk tujuan China sebesar 87,7 ribu ton (minus 21%); ke Uni Eropa (EU) 81,5 ribu ton (minus 16,62%), Pakistan 47 ribu ton (minus 23,4%) dan India 38,6 ribu ton (minus 9,2%). "Penurunan ekspor ke China mungkin juga disebabkan meningkatnya crushing oilseed (khususnya kedelai) yang cukup besar. Sehingga pasokan minyak nabati China menjadi tinggi," tambahnya.

Meskipun terjadi penurunan ekspor ke beberapa negara, ada beberapa negara tujuan ekspor yang menunjukkan kenaikan seperti Mesir dengan 42 ribu ton, atau naik 81% ketimbang April 2020. Ukraina 31 ribu ton (+99%), Filipina 29 ribu ton (+73%), Jepang 19 ribu ton (+35%) dan ke Oman 15 ribu ton (+85%).

Mukti menginformasikan, kegiatan ekonomi China, India dan banyak negara lain mulai pulih sehingga permintaan akan minyak nabati untuk kebutuhan domestiknya mulai naik. "Kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga kedepan permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel," pungkasnya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA