Pengamat : Jokowi pernah bilang nggak ada beban

IN
Oleh inilahcom
Minggu 12 Juli 2020
share
Presiden Joko Widodo - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pakar Kebijakan Publik Universitas Trisaksi Trubus Rahardiansyah menyoroti kinerja kabinet pemerintahan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.

"Saya juga sorot Mensos. Lemah dalam pembagian jaringan pengaman sosial. Sempat ada polemik berkepanjangan. Data bermasalah. Pola penyalurannya tidak tepat. Kemenko perekonomian soal Kartu Pra Kerja, ada konflik kepentingan. Bahkan Trubus melihat ketidakmampuan Kemenperin soal perijinan operasional yang berdampak pada penularan Covid," kata Trubus dalam diskusi bertajuk : "Reshuffle Kabinet : Telenovela, Sandiwara aau Drama Politik".


Sedangkan anggota Komisi VI DPR-RI Herman Khaeron menilai isu reshuffle yang berhembus dalam beberapa waktu terakhir, bisa menjadi stimulus politik ke ekonomi. Tapi belum terlihat efeknya.

"Ini tergantung respon atas statemen presiden. Kalau bagus, berarti bakal reshuffle Tinggal mencari instrumen mana yang akan menjadi magnitude presiden untuk reshuffle. Kalau saya pahami, titik terberat Pak Jokowi adalah sektor ekonomi. Berbagai instrumen sedang banyak dimainkan dan menunggu respon publik," urai Herman.


Sedangkan Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie mempertanyakan isu reshuffle yang berhembus benar benar serius bakal direalisasikan oleh Presiden Joko Widodo atau hanya sandiwara.

"Jangan-jangan ini mirip telenovela Maria Mercedes, Kassandra atau Si Muka Kotor, oublik lagi wait and see soal pernyataan presiden soal reshuffle kabinet, kalau tidak dilakukan maka publik akan hilang distrust and disintegrity lantaran bulan febuari juga sempat behembus kabar pergantian menter," kata dia.

"Harusnya Jokowi melihat mana menteri-menteri yang loyo, lesu, lemah dan banyak bikin gaduh di fire atau copot saja. Jangan terlalu banyak asumsi tapi to the point saja. Bilang gagal kalau gagal jangan memuji yang kinerjanya buruk. Harusnya, dibentuklah tim ahli di belakang Jokowi (untuk bahas resufel) seperti era mendiang Gus Dur dan Presiden ke-6 SBY," tuturnya.

Sebetulnya tegasnya, kabinet sekarang bukan kabinet yang menyenangkan kuping. Bagaimana dengan tiga dapur di Istana Kepresiden? Ini kan sebenarnya kecekatan presiden melihat. Di partai-partai pendukung Jokowi banyak, kok kandidat menteri yang hebat untuk gabung di kabinet.

"Kalau tidak ada resufel, kepercayaan publik akan menurun. Perlu reshuffle," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur VoxPol Center Pangi Syarwi Chaniago menjelaskan reshuffel kalau berbasis politik tak berkorelasi ke peningkatan kinerja. Bukannya trust yang didapat, tapi malah muncul distrust.

"Jokowi juga pernah bilang nggak ada beban. Kalau nggak ada beban, ya, resufel saja. Ya, senyap saja. Nggak perlu juga marah-marah dipublikasikan. Efeknya apa? Selama sharing power saja, saya pikir itu musibah demokrasi juga. Harusnya lihat kinerja," kata Pangi.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA