Polisi Tangkap Komplotan Gendam Asal Pasuruan

IN
Oleh inilahcom
Selasa 14 Juli 2020
share
 

INILAHCOM, Malang - Tiga orang komplotan penipu atau tukang gendam asal Pasuruan yakni Didik M Fauji, M Ali dan M Salam ditangkap Polres Kota Batu karena melakukan gendam kepada nenek berinisial D berusia 80 tahun.

Kronologinya ketiga orang ini menyewa mobil rental dari Pasuruan dengan harga Rp1.050.000. Selanjutnya mereka menuju Kota Batu untuk mencari sasaran. Komplotan ini berhenti di Kelurahan Sisir, Kota Batu. Mereka mencari calon korban, kemudian nenek D menjadi sasaran mereka.

Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama menuturkan M Salam bertugas turun untuk berpura-pura tanya menuju Pasar Besar, Kota Batu. Sambil merayu dia mengajak nenek D menuju mobil, Didik M Fauji berpakaian layaknya tokoh agama menggunakan sarung putih, songkok putih dan bersurban. Sementara, M Ali berperan sebagai sopir.

Sambil meyakinkan korban, Didik mengaku bisa mengabulkan doa-doa Nenek D. Syaratnya dia harus menyerahkan dua cicin emasnya seberat 5 gram. Kemudian Didik memberikan dua bungkusan masing-masing berisi uang koin Rp100. Didik berpesan kepada Nenek bahwa bungkusan yang diberikan hanya boleh dibuka sesampainya di rumah korban.

"Pelaku menginstruksikan agar sesampainya di rumah bungkusan itu direndam airnya diminum. Pelaku mendoakan korban, semoga bisa berangkat ke tanah suci dan terkabul doa-doanya," ujar Harvi.

Harvi menuturkan bahwa Didik merupakan Kepala Urusan Umum sebuah kantor desa di Kabupaten Pasuruan. Komplotan ini mengaku tiga kali melancarkan aksinya di wilayah Kota Batu. Setelah Nenek D melaporkan ke Polres Kota Batu polisi melakukan penyidikan dan memutar kamera CCTV di sekitaran lokasi.

"Tersangka kami tangkap pada 9 Juli 2020 di Pasuruan. Pengakuannya selama beraksi mendapat Rp4,1 juta dibagi 3 orang dan buat bayar sewa mobil. Akibat perbuatanya mereka dijerat dengan pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun," papar Harvi.

Didik mengaku menjadi Kaur Umum di kantor desa sudah sejak tujuh tahun lalu. Sementara untuk aksi nekatnya, dia mengaku terdesak kebutuhan ekonomi. Didik mengaku butuh uang untuk biaya pendidikan buah hatinya. "Saya Kaur Umum sudah tujuh tahun. Butuh uang untuk sekolah anak saya yang masuk SD. Saya mencontoh rekan saya yang tertangkap di Malang," tandasnya. [beriajatim]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA