Pak Nadiem, Jangan Buka Sekolah di Luar Zona Hijau

IN
Oleh inilahcom
Kamis 30 Juli 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Rencana Menteri Pendidikan Nadiem Makarim membuka belajar secara tatap muka di luar zona, meninggalkan sejumlah catatan kritis. Apalagi angka pandemi COVID-19 di tanah air, masih tinggi.

Dalam pertemuan dengan DPR pada 6 November 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan, keuntungan dari teknologi adalah transparansi dan semua kebijakan dan aturan harus berbasis data. Penyataan Nadiem Makarim ini benar dan tepat.

Oleh karena itu, kita semua terkejut ketika Nadiem Makarim mengumumkan rencana pemerintah untuk membuka kembali belajar secara tatap muka untuk sekolah di luar zona hijau dengan dilakukan serangkaian protokol kesehatan yang ketat.

Saya tidak paham dengan keputusan ini. Data apa yang digunakan oleh pemerintah dan Nadiem Makarim untuk memutuskan bahwa sudah dapat dilakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah pada saat pandemi COVID-19 di Indonesia belum menunjukan penurunan?

Data terakhir bahkan menyatakan bahwa orang yang terinfeksi COVID-19 terus mengalami kenaikan dan per hari ini, ada 104.432 kasus di luar Indonesia dan muncul 90 kluster perkantoran hanya di Jakarta saja. Data di atas adalah data resmi sehingga masih terbuka kemungkinan jumlah yang tidak terdeteksi jauh lebih banyak.

Misalnya pada saat data resmi pemerintah menunjukan terdapat korban meninggal sebanyak 2.276 orang, ternyata Tempo menemukan data dari rumah sakit yang menanggani pasien Covid-19 di seluruh Indonesia bahwa orang meninggal sebenarnya berjumlah 13.885 orang, atau lebih dari empat kali lipat dari angka kematian yang diumumkan.

Kenaikan klaster Virus Corona di puluhan kantor sejak PSBB dilonggarkan pada 4 Juni 2020 juga membuktikan bahwa protokol kesehatan yang diterapkan pada semua perkantoran, termasuk menurunkan kapasitas ruangan menjadi hanya 50% hanya dapat menekan angka orang yang akan terinfeksi. Namun, tidak dapat menghalangi kenaikan.

Orang-orang di kantor yang sudah bekerja adalah orang-orang yang sudah dewasa dan seharusnya lebih disiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan, tapi mereka masih tetap kena. Bagaimana dengan anak-anak yang tentunya tidak akan sedisiplin orang dewasa.

Di dalam sekolah mereka dapat dipaksa melakukan protokol kesehatan dengan ketat, tapi apa ada jaminan begitu mereka keluar sekolah akan juga melakukan protokol kesehatan? Orang dewasa saja tidak bisa dan hal ini merupakan salah satu sebab angka penderita Covid-19 di Indonesia terus naik.

Belum lagi, data dari US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan bahwa virus Covid-19 ini dapat menular melalui udara dan pada ruang tertutup (ruang kelas atau ruang kantor misalnya), ternyata virus ini dapat bertahan di udara selama 16 jam.

Dengan kata lain, protokol kesehatan berupa pembatasan kapasitas kelas menjadi 50% tidak akan efektif menghindari sekolah menjadi klaster baru COVID-19 apabila ada satu saja anak tanpa gejala yang bersekolah dan menyebabkan virus tersebut melayang di ruang kelas.

Apakah Menteri Nadiem mampu bertanggung jawab secara moral apabila muncul puluhan atau ratusan klaster dari sekolah dengan kemungkinan muncul korban jiwa massal atas kebijakannya membuka sekolah di luar zona hijau? Jangan pula menggantungkan pembuatan kebijakan berdasarkan hasil survei tidak berdasar untuk membenarkan pembukaan sekolah.

Ingat, LSI Denny JA pernah mengeluarkan survei bahwa wabah corona akan selesai Juni 2020. Sekarang terbukti, survei tersebut bukan saja salah besar tapi juga menyesatkan. Jadi, dalam hal apapun sekolah tidak boleh dibuka di luar zona hijau sampai masalah Covid-19 selesai. Sistem belajar jarak jauh sudah benar. Bahwa ada masalah anak-anak yang tidak punya akses internet maupun gawai, maka hal tersebut harus diatasi agar memastikan mereka bisa mengakses internet dan gawai untuk belajar jarak jauh.

Bukankah dana Program Organisasi Penggerak (POP) yang ratusan miliar tersebut dapat digunakan untuk pengadaan internet dan gawai bagi peserta didik yang tidak mampu?

Kebosanan anak di rumah juga bukan alasan. Lebih baik anak bosan di rumah daripada masa depan mereka rusak atau bahkan mereka kehilangan nyawa akibat terjangkit COVID-19. Benar begitu Pak Nadiem?
Penulis: Hendra Setiawan Boen, Mantan Koordinator Direktorat Hukum Tim Kampanye Nasional JokowiMaruf Amin


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA