IPDMIP Sumut

KostraTani Asahan Sosialisasi Pupuk Berimbang

IN
Oleh inilahcom
Selasa 04 Agustus 2020
share
(Foto: Pusluhtan BPPSDMP)

INILAHCOM, Asahan - Penyuluh di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, mengingatkan petani agar memakai pupuk sesuai kebutuhan dan mengacu pada umur padi. Apabila memakai unsur NPK dari pupuk tunggal, tidak perlu NPK majemuk. Begitu pula, kalau sudah memakai urea tidak perlu ZA. Setelah pilih SP36, jangan lagi gunakan TSP.

Fakta tersebut mencuat pada sekolah lapang (SL) yang digelar penyuluh BPP model KostraTani, Rahmadi Rajab dan Uni Surung Simarmata di Kecamatan Rawang Panca Arga, penghujung Juli lalu. Keduanya juga mengadakan pelatihan membuat pupuk organik cair (POC) terdiri atas dua jenis, POC ZPT dan POC perangsang buah.

Rahmadi Rajab mengingatkan para petani jangan mudah tergiur tawaran sejumlah pihak swasta. Orientasi bisnis abai pada ongkos produksi pertanian yang dikeluarkan petani, ternyata berdampak pada kesejahteraan keluarga petani serta ketahanan pangan daerah dan nasional.

"Jangan mudah tergiur. Aplikasi macam-macam pupuk anorganik seperti urea, ZA, KCl, SP-36 dan NPK dari berbagai merek, termasuk menambah zat pengatur tumbuh serta memakai obat fungisida dan obat anti hama untuk tanaman padi," kata Rahmadi Rajab, Minggu (2/8/2020).

Hal itu sejalan dengan instruksi dan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tentang ketersediaan pupuk bersubsidi dan mendorong penerapan pupuk berimbang, melalui pengawasan ketat alokasi dan pemanfaatan agar tepat sasaran dan efisien.

Hal itu digarisbawahi oleh Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi bahwa penggunaan pupuk harus sesuai karakteristik lahan seperti sawah, lahan kering, rawa pasang surut, rawa lebak.

"Pupuk juga harus spesifik komoditas. Misalnya tanaman semusim, tahunan, perkebunan dan hortikultura. Satu jenis pupuk tidak mungkin bisa untuk semuanya, karena setiap tanaman, setiap lahan, dan setiap musim itu unik dan berbeda," kata Dedi Nursyamsi.

Rahmadi Rajab menambahkan, peserta SL adalah petani padi di wilayah irigasi (DI) Desa Pondok Bungur yang didukung Program Integrasi Partisipasi Pertanian dan Manajemen Irigasi, atau Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Project (IPDMIP).

"Ketepatan waktu pemberian jenis pupuk juga perlu diperhatikan oleh petani. Misalnya pupuk urea atau ZA diberikan pada saat mulai tanam sampai padi berusia satu bulan," kata Uni Surung Simarmata.

Begitu juga pemakaian pupuk KCl diberikan bersamaan waktunya dengan urea, yang berfungsi merangsang pertumbuhan anakan padi dan akar, sedangkan SP36 pada usia lebih satu bulan sampai padi bunting.

"Penambahan ZPT bisa dilakukan, karena fungsinya meningkatkan tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, bobot bulir padi dan panjang malai. Juga berfungsi memperbaiki ketersediaan unsur hara dalam tanah dan mengurai pupuk anorganik yang tidak terserap oleh tanaman padi," kata Rahmadi Rajab.

Konsultan Regional I Tenaga Ahli/Koordinator IPDMIP Asahan, Radinson Saragih mengatakan diskusi SL yang didukung IPDMIP bermanfaat bagi petani mengetahui pupuk berimbang untuk menghemat biaya produksi.

"Ke depan, peserta SL diharapkan lebih selektif memilih dan efisien menggunakan pupuk sesuai jenis dan waktu pemakaian mengacu umur padi, untuk meningkatkan produksi pertanian. [yha]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA