Dirjen Bimas Katolik Temui Ketua Presidium KWI

WN
Oleh Willi Nafie
Rabu 12 Agustus 2020
share
Dirjen Binmas Katolik Kementerian Agama, Yohanes Bayu Samodro bertemu ketua presidum Konferensi Waligereja Indonesia Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo

INILAHCOM, Jakarta - Mengawali tugasnya sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama, Yohanes Bayu Samodro bertemu Uskup Agung Jakarta yang juga ketua presidum Konferensi Waligereja Indonesia Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo.

Bayu Samodro datang ke Wisma Keuskupan Agung Jakarta didampingi Sekretaris Dirjen Bimas Katolik Aloma Sarumaha, Direktur Pendidikan Katolik Agustinus Tungga Gempa, dan Direktur Urusan Agama Katolik Albertus Triatmodjo. Sementara Kardinal Suharyo didampingi beberapa imam dan awam di Keuskupan Agung Jakarta Dirjen Bimas Katolik.

Mewakili Gereja Katolik Indonesia, Kardinal Suharyo mengucapkan selamat kepada Yohanes Bayu Samodro, atas dilantiknya sebagai Dirjen Bimas Katolik yang baru, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada Aloma Sarumaha yang selama 5 bulan terakhir ini telah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Dirjen Bimas Katolik.


"Gereja Katolik memberi apresiasi atas proses seleksi yang dilakukan secara terbuka, sehingga memberi kesempatan seluas-luasnya bagi umat Katolik untuk ikut melayani Gereja di sektor pemerintahan, ujar Bayu mengulang pernyataan Kardinal Suharyo.

Menurut Bayu, dalam arahannya, Kardinal menyampaikan fakta-fakta yang berkembang saat ini dan Gereja Katolik dalam hal ini KWI memiliki harapan besar terhadap Ditjen Bimas Katolik.

Uskup Agung Jakarta menambahkan, gereja ingin berperan dalam membangun keadaban publik menuju habitus baru, dimana ada 3 pilar pelaku untuk menuju habitus baru yaitu Negara-Pasar-Masyarakat. Ketiga pilar tersebut menjalankan fungsinya secara berbeda-beda.

Pilar negara dalam hal ini Ditjen Bimas Katolik memiliki tanggungjawab memastikan bahwa kebaikan bersama terwujud di mana segala upaya yang dilakukan bertujuan untuk mencapai kebaikan bersama. Kebaikan bersama ini dirumuskan dalam nota pastoral sejak tahun 2004 yaitu Pancasila sebagai keadilan sosial; keadaban publik sebagai bangsa menuju habitus baru.

"Kebaikan bersama itu harus diperjuangkan sebagai panggilan umat Katolik menjadi garam dan terang bagi dunia," ujar Suharyo.

Kardinal Suharyo juga mengingatkan Ditjen Bimas Katolik sebagai gereja yang dipanggil untuk melayani masyarakat Katolik, agar mewujudkan habitus baru tanpa praktek kolusi atau perselingkuhan dengan kejahatan. Ditjen Bimas Katolik juga ditantang bersikap berbeda dari instansi pemerintah lain demi menciptakan habitus baru.

Sementara itu, Yohanes Bayu Samodro menyatakan, solusi alternatif yang ditawarkan untuk mengatasi masalah yang muncul dari fakta-fakta yang ditemui di lapangan antara lain adalah pelayanan Ditjen Bimas Katolik perlu dilakukan secara bersinergi dengan unit eselon 1 yang juga umat Katolik pada kementerian lain.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA