Menguji Tim Ekonomi Jokowi Gapai Pertumbuhan 5,5%

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 15 Agustus 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi tentang Pengantar Nota Keuangan dan RUU APBN 2021, menargetkan pertumbuhan ekonomi 4,5%-5,5%. Kira-kira bagaimana peluangnya?

Mendengar ancang-ancang pertumbuhan ekonomi yang cukup optimis itu, Anggota Komisi XI DPR kamrussamad, cukup surprised juga. Pasalnya, mewujudkan target pertumbuhan ekonomi di rentang 4,5%-5,5%, bukanlah perkara yang mudah. "Pertanyaan yang muncul adalah mampukah tim ekonomi Pemerintah mewujudkan hal itu? Dengan mengandalkan konsumsi dan investasi sebagai lokomotif utama," kata Kamrussamad, jakarta, Jumat (14/8/2020).

Meski senggan disebut meragukan kemampuan tim ekonomi Jokowi yang dikomandoi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Kamrusamad merunut kinerja semester I-2020 yang belum menorehkan prestasi. Lantaran serapan anggaran masih rendah, sentralisasi data bantuan sosial yang belum ter-update, masih belum bergeraknya sektor riil, semakin turunnya daya beli. "Akibatnya apa, pengangguran naik, kemiskinan bertambah. Terganggunya demand site dan supply site," ungkap kader Partai Gerindra ini.

Selain itu, kata Kamrussamad, antar kementerian dan lembaga negara (K/L) dengan pemerintah daerah, belum mampu menunjukkan koordinasi yang mumpuni. Khususnya dalam mengimplementasikan kebijakan penanganan Pandemi COVID-19 serta dampak ekonominya.

"Jika kita melihat berbagai pendapat dari para pakar ekonomi, mereka mengatakan Indonesia masuk resesi pada kuartal II-2020. Karena, pertumbuhan ekonomi sudah negatif selama dua kuartal berturut-turut. Dihitung berdasarkan quarter on quarter-seasonally adjusted (QoQ-SA). Yaitu, kuartal saat ini, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, setelah dikoreksi faktor musiman," terang pendiri KAHMIPreneur ini.

Kalau dibandingkan antara kuartal I-2020 dengan kuartal IV-2019, kata Kamrussmad, angka pertumbuhan ekonomi minus 0,7 persen. Sedangkan pertumbuhan kuartal II-2020 dibandingkan kuartal I-2020, hasilnya minus 6,9%. Perhitungan untuk menentukan resesi seperti ini, QoQ-SA, berlaku universal secara internasional.

Sayangnya, pemerintah ngotot menyebut Indonesia belum resesi. Karena, pemerintah menggunakan definisi resesi sendiri, yaitu pertumbuhan kuartal saat ini dibandingkan kuartal sama tahun lalu atau secara tahuan (year on yera/yoy). Berdasakan perhitungan ini, pertumbuhan kuartal I-2020 terhadap kuartal I-2019 masih positif 2,97%. Dan, pertumbuhan kuartal II-2020 dibandingkan kuartal II-2019 hasilnya minus 5,32%. "Oleh karena itu, pemerintah mengatakan masih belum resesi karena baru satu kuartal negatif," ungkapnya.

Pemerintah, sepertinya tidak ingin ada stigma Indonesia masuk resesi. Untuk itu, pemerintah berusaha meyakinkan publik kalau ekonomi pada kuartal III-2020 bisa lebih baik dari kuartal III-2019. Pemerintah, bahkan berharap pertumbuhan kuartal III-2020 bisa positif, sehingga terhindar dari kata status resesi yang nampaknya menjadi momok bagi pemerintah. "Maka seharusnya APBN 2021 memiliki arah yang tepat, yakni Penyelamatan Ekonomi Nasional," pungkas Kamrussamad.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA