Kabar Baik Pemilik Kebun Sawit,Karhutla 2020 Turun

IN
Oleh inilahcom
Rabu 26 Agustus 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Tahun ini, ada kabar baik bagi petani maupun industri sawit. Diprediksi bakal terjadi penurunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lantaran, kemaraunya tak seganas tahun lalu.

Kepastian itu disampaikan Kepala Sub Direktorat Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan, KLH, Anis Susanti Aliati dalam webinar yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan), Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Anis bilang, kemarau tahun ini, tidak sepanas tahun lalu. Alhasil, total area karhutla hingga Juli 2020 mencapai 64.602 hektar (ha). Atau turun 52,41% ketimbang Juli 2019 yang mencapai luasan 135.747 ha. "Perkiraan puncak musim kemarau tahun ini dari BMKG itu pada bulan Juli-September. Kita harus hati-hati terutama Agustus ini," kata Anis.

Dia mengatakan, dari prediksi BMKG, sekitar 64,9 persen wilayah Indonesia akan memasuki puncak kemarau tahun ini. Adapun mulai September 2020, diprediksi menurun menjadi hanya 18,7 persen wilayah. Kendati demikian, Anis mengklaim, KLHK tetap meningkatkan upaya untuk pencegahan Karhutla meskipun titik panas tidak bisa hilang 100 persen.

Menurut dia, terdapat tiga solusi permanen yang sudah disiapkan. Yakni optimalisasi pemanfaatan data iklim, monitoring cuaca, sekaligus teknologi modifikasi cuaca (TMC). Selanjutnya, upaya-upaya pencegahan karhutla yang sudah rutin dilakukan ditingkatkan frekuensinya.

"Lalu pengelolaan dari para pemegang konsensi lahan kita harap dapat melakukan kegiatan yang aman. Kita coba terapkan pembukaan lahan tanpa bakar sehingga limbah hasil pembukaan bisa dimanfaatkan untuk membuat cuka kayu atau disinfektan misalnya," ujar Anis.

Nara sumber lain, Ketua Bidang Sustainibility Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Bambang Dwi Laksono mengatakan, terdapat tantangan untuk penanganan karhutla, termasuk di area perkebunan yang masih dihadapi saat ini.

Pertama, kata Bambang, lahan perkebunan pada umumnya berada di remote area dengan sistem komunikasi dan transportasi yang terbatas. Hal itu menyebabkan deteksi kejadian dan penanganannya kerap kali mengalami keterlambatan. Kedua, soal peraturan yang membolehkan pembakaran lahan untuk membuka lahan baru dengan alasan kearifan lokal. "Tanpa ada monitoring yang efektif, potensi pemicu kebakaran akan besar," kata Bambang.

Tantangan ketiga, lanjutnya, soal kompleksitas budaya setempat. Hal itu harus disikapi dengan program edukasi dan komunikasi yang tepat sesuai kultur masyarakat yang menjadi objek pencegahan. Terakhir, Pandemi COVID-19 turut menjadi tantangan saat ini. "Sebab, ada keterbatasan interaksi sehingga berpotensi menyebabkan rendahnya pelaksanaan program kerja sama dengan masyarakat lokal dalam penanganan karhutla," ungkapnya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA