OJK Digugat ke PTUN Soal Saham Pengendali Bukopin

MB
Oleh M Bachtiar Nur
Kamis 27 Agustus 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - PT Bosowa Corporation (PT. BC) menggugat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ke Pengadilan Tatas Usaha Negara (PTUN) Jakarta terkait penilaian kembali pemegang saham pengendali PT Bank Bukopin. Gugatan yang didaftakan pada 27 Agustus tersebut tercatat dengan nomor perkara 163/G/2020/PTUN.JKT.

Direktur Utama PT Bosowa Corporation Rudyantho menyampaikan alasan gugatan dikarenakan keputusan Dewan Komisioner (Dekom) OJK No. 64/KDK.03/2020 tentang hasil penilaian kembali PT. Bosowa Corporation selaku pemegang saham pengendali (PSP) PT. Bank Bukopin, telah melanggar beberapa pasal dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No 34 Tahun 2018.

Salah satu yang dilanggar kata Rudyantho yaitu Pasal 1 angka 3, terkait definisi pemegang saham pengendali. "PT. BC sudah bukan pengendali sejak Juli 2018, karena jika merujuk pada POJK, yang disebut PSP adalah pemegang saham minimal 25 % dan atau melakukan kontrol. Faktanya PT. BC hanya memegang saham 23 %," kata Rudyantho, Kamis (27/8).

Di samping itu OJK juga dinilai melanggar Pasal 6 ayat 2, terkait tata cara/tahapan penilaian kembali. Disampaikan Rudyantho, pada tanggal 7 Juli 2020 OJK mengirimkan surat No. SR-148/PB.31/2020 kepada PT BC perihal Penilaian Kembali Pihak Utama Lembaga Jasa Keuangan. Inti surat untuk menghadiri pertemuan pada tanggal 10 Juli 2020.

"Bahwa dalam pertemuan tersebut PT. BC sudah memberikan klarifikasi kepada pihak OJK, namun tidak ada notulen rapat yang diberikan kepada PT. BC. PT. BC tidak pernah diberitahukan adanya penetapan dan penyampaian hasil sementara penilaian kembali kepada Pihak Utama yang dinilai Kembali," jelas Rudyantho.

"Dikarenakan Pasal 6 ayat 2 tidak pernah terjadi, atau tidak pernah disampaikan kepada PT. BC, maka ketentuan Pasal 6 ayat 3 sampai dengan ayat 8 secara otomatis tidak terjadi," imbuhnya.

Rudyantho mengungkapkan, dalam Keputusan Dewan Komisioner OJK No. 64/KDK.03/2020 tidak disebutkan secara tegas apakah PT. BC dinyatakan tidak lulus karena permasalahan integritas dan atau permasalahan kelayakan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat 2.

Lebih jauh Rudyantho mengemukakan OJK menafsirkankata "Penetapan lain" berupa "Penilaian Kembali bagi pihak utama Lembaga jasa keuangan melalui satu tahap." Faktanya,OJK telah mengeluarkan Peraturan yang khusus mengatur penilaian kembali dalam bentuk POJK No 34 Tahun 2018. Namun dalam POJK No. 34 tersebut tidak diatur penilaian Kembali melaui satu tahap. Penafsiran OJK tersebut menimbulkan ketidakpastian dan ketidak konsistenan dalam Peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh OJK.

Dalam POJK No 34 Tahun 2018 tentang Penilaian Kembali menurut Rudyantho telah diatur proses untuk mengajukan keberatan terhadap penilaian kembali dengan mengajukan permohonan peninjauan ulang. Hal itu sebagaimana dimaksud Pasal 16 (1) yang menyebutkan pihak utama yang dikenakan konsekuensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) dan ayat (3) dapat mengajukan permohonan peninjauan ulang atas predikat tidak lulus sebelum jangka waktu konsekuensi terlampaui.

"Jikamengacu kepada penafsiran OJK yang mengatakan "penilaian kembali bagi pihak utama Lembaga jasa keuangan melalui satu tahap", maka ketentuan Pasal 16 (ayat) 1 menjadi tidak relevan, sehingga upaya yang harus dilakukan adalah gugatan perdata/TUN," tegasnya.

Sebelumnya OJK juga digugat Bosowa ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 480/Pdt.G/2020/PN. Jkt.Pst. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA