Petani Keluhkan Ekonomi, Sandi: Solusinya KEGERUS

IN
Oleh inilahcom
Minggu 30 Agustus 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pandemi COVID-19 berdampak langsung kepada lesunya perekonomian nasional, termasuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), khususnya sektor pertanian.

Keluhan tersebut diungkapkan Founder OK OCE Indonesia, Sandiaga Uno seperti yang dirasakan Sumariati, petani tomat dan bawang asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTT).

Sumariati seperti disampaikan Sandi, mengeluhkan nasib ribuan petani tomat dan bawang di Lombok Timur yang merugi, karena harga jual komoditas yang murah saat musim panen.

Menurutnya, masalah yang kini dialami masyarakat harus dihadapi dengan kepala dingin. Pelaku usaha diharapkannya tidak saling menyalahkan, tetapi bijak menghadapi masalah lewat sistem perdagangan yang sederhana, terbuka dan berkeadilan.

Sebagai solusinya, Sandiaga menawarkan 'Kegerus" merupakan akronim Keroyok, Gerilya, dan Urai satu-satu. "Keroyok, kita harus mampu menyelesaikan masalah ini, selesaikan dengan satu konsep distribusi sederhana, terbuka dan berkeadilan," ungkap Sandi dalam Webinar bersama OK-OCE Indonesia dan Agricon Indonesia bertajuk 'Strategi Bisnis Pertanian di Tengah Pandemi bagi UMKM', Sabtu (29/8/2020).

"Gerilya, datang ke tempat langsung, sedangkan Urai satu-satu masalahnya, duduk bersama dan selesaikan," tambahnya.

Selain itu, Sandi berharap adanya inovasi dan sinkronisasi dari para pelaku usaha. Semisal, petani tidak lagi menjual komoditas mentah ke pasar, tetapi mengolah hasil panennya terlebih dahulu guna meningkatkan nilai ekonomis produknya.

Langkah tersebut disampaikannya seperti yang dilakukan Imel, pemilik sambal kemasan merek Bu Kribo. Sambal yang semula merupakan pelengkap makanan khas tradisional diangkat potensinya dengan dikemas secara khusus. "Mungkin sambel bisa diolah menjadi sambal Taliwang, adanya ghost kitchen bisa bekerjasama dengan petani di Lombok Timur," ungkapnya.

Sedangkan, petani dari Brebes Selatan, tepatnya Bumiayu, Jawa Tengah mengeluhkan tidak lakunya produksi pertanian seperti brokoli, kubis dan hasil panen lainnya, dijawab Sandi dengan sederhana.

Solusinya dengan menghadirkan kampung berbasis agrowisata. Ini pariwisata gaya baru yang perlu dikembangkan pemerintah ke depan. "Nanti bisa saja di-branding Bumiayu kampung apa, misalnya? dimulai dengan membuat rangkaian bercocok tanam, menginap satu hari, ada freshmart-nya menjual kebutuhan bawang merah, brokoli, kubis, wortel bisa dikemas," ungkap Sandi.

Inovasi dan pengembangan bisnis yang dilakukan UMKM ditegaskan Sandi dapat membangun ketahanan pangan dari lingkup keluarga. "Kita jangan sampai ketinggalan jaman, ayo bergerak ke pangan hadirkan inovasi pangan dari hulu ke hilir," ungkap Sandi.

Langkah tersebut dijelaskan Sandi merujuk fakta yang menyebutkan Indonesia merupakan negara yang sangat rentan pada harga pangan, imbas impor yang cukup tinggi.

Jumlah impor Indonesia tercatat sebesar 50 persen dari kebutuhan nasional. "Tanah kita subur, petani kita rajin sekali. Kita harus hadirkan ketahanan pangan," imbuh Sandi.

Ketahanan pangan, ditegaskan Sandi dapat dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Seperti di lingkungan rumahnya yang kini dibangun Selong Farm. Setiap warga Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menanam sayur mayur di halaman rumah. Kesadaran yang dimulai dari rumah kemudian diterapkan di lingkup RT, RW, hingga ke tingkat desa, kabupaten dan kotamadya."Lipat Gandakan kapasitas produksi pangan lokal, gimana caranya lokal ditingkatkan dalam benih, lahan, pupuk yang baik. Digitalisasi digunakan dalam peningkatan produksi," ungkap Sandi.

"Perkaya food mix kita dengan bahan baku asli Indonesia, terutama ikan. Gunakan teknologi, ciptakan green jobs untuk generasi muda," tutupnya. [tar]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA