Maestro Perang Tarif

Menunggu Gebrakan Alex di Bisnis Telekomunikasi

IN
Oleh inilahcom
Jumat 04 September 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Lama tak terdengar, Alexander Rusli kembali ke industri telekomunikasi. Sejak 15 Juni 2020, dia didapuk menjadi komisaris independen Link Net, penyedia internet dan cable tv.

Industri telekomunikasi bukanlah barang baru bagi pria kelahiran Sidney, Australia ini. Lama malang melintang di industri telekomunikasi, menjadi modal kuat bagi Alex untuk tetap eksis di bisnis ini.

Pada 2010, Alex bergabung dengan Indosat sebagai komisaris independen. Karirnya melesat ketika 2012 ditunjuk menjadi nahkoda Indosat yang kala itu merupakan salah satu operator telekomunikasi kelas kakap di Indonesia. Jabatan CEO itu diembannya hingga 2017, ketika itu Alex memutuskan untuk mengundurkan diri.

Selama menjadi bos di Indosat, banyak gebrakan dan sepak terjang positif yang dilakukan Alex. Salah satu yang cukup fenomenal adalah penerapan tarif telepon dan internet yang sangat murah. Kebijakan ini jelas menarik minat masyarakat sebagai pelanggan untuk beralih ke layanan telepon dan internet yang disediakan Indosat.

Harga yang super murah tersebut, memaksa operator telekomunikasi lain ikut-ikutan. Tujuannya jelas untuk mempertahankan pelanggan tidak pindah ke Indosat yang tarifnya lebih murah namun tetap berkualitas.

Aksi resiprokal antar operator inilah yang menimbulkan persaingan harga tidak berkelanjutan. Kemudian muncul istilah perang tarif antar operator telekomunikasi.

Alex memang dikenal sebagai sosok yang tidak mudah gentar. Dalam menjalankan strategi perang tarif, Alex yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), bahkan tidak segan-segan secara terbuka mengajak para operator telekomunikasi untuk "mengeroyok" Telkomsel sebagai opearator terbesar. "Saya minta kepada yang lainnya (XL dkk) untuk bersuara. Jangan takut untuk bicara, ini demi kepentingan bersama," papar Alex pada 2016.

Perang tarif yang diinisiasi Alex berubah menjadi bumerang. Strategi untuk menguasai pasar, malah berujung malapetaka bagi industri telekomunikasi. Banyak operator telekomunikasi dibuat berdarah-darah secara finansial. Dengan harga jual layanan telepon dan data yang sangat rendah, operator besar dan kecil tidak mendapatkan pengembalian yang wajar dan sehat dari investasi yang dilakukannya.

Bahkan, Indosat, perusahaan yang dipimpin Alex juga menjadi korban dari perang tarif tersebut. Besarnya dampak negatif perang tarif yang dirasakan oleh Indosat, membuat Alex selaku CEO berkirim surat langsung kepada Rudiantara, selaku Menteri Komunikasi dan Informtika(Menkominfo) pada 17 Juli 2017.

Dalam suratnya itu, Alex meminta adanya pengaturan batas bawah guna mencegah semakin jatuhnya layanan data internet. Lebih jauh, Indosat terpaksa harus menelan pil pahit berupa kebijakan restrukturisasi baik pada kepemilikan aset maupun pada pengelolaan human capital. Dampaknya pun tidak sebentar. Hingga saat ini Indosat masih berjuang bangkit dari keterpurukannya tersebut.

Tidak hanya terbatas di operator telekomunikasi, perang tarif yang digulirkan Alex juga menimbulkan dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat selaku konsumen serta oleh pemerintah. Dengan kondisi keuangan yang terbatas, operator telekomunikasi tidak dapat menambah investasinya di infrastruktur telekomunikasi guna memperluas cakupan layanan.

Akibatnya, masih terdapat wilayah di mana masyarakatnya tidak dapat menikmati layanan telekomunikasi. Cita-cita yang telah lama dimimpikan pemerintah akan tersedianya layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonsia pun terpaksa harus dipendam dahulu. Kurang lebih setengah dekade setelah perang tarif tersebut berlangsung, masyarakat utamanya yang berada di wilayah pinggiran belum dapat seutuhnya menikmatai layanan telekomunikasi, yang tentunya membuat mereka kesulitan dalam menjalani kehidupan new normal sebagai dampak pandemi Covid-19.

Selain perang tarif, sosok Alexander Rusli juga tidak bisa lepas dari kasus korupsi di Indosat. Kerja sama antara Indosat dan IM2 yang didalamnya terdapat penyalanhgunaan frekuensi radio 2,1 GHz mengakibatkan kerugian tidak sedikit bagi negara, yaitu Rp 1,3 triliun rupiah. Alex sebagai CEO Indosat pada saat itu tentu memahami seluk beluk permasalahan ini.

Kondisi industri telekomunikasi saat ini tentunya berbeda dibandingkan dengan masa Alex memimpin Indosat. Secara garis besar, di bawah kepemimpinan Johnny G Platte selaku Menkominfo, hubungan antara operator telekomunikasi bisa dikatakan akur. Operator telekomunikasi saling guyub antara satu sama lain.

Bahkan, operator saling bekerja sama dan berkontribusi dalam mendukung pemerintah menyediakan infrastruktur digital guna menghadapi pandemi COVID-19. Namun, dengan rekam jejak-nya di industri telekomunikasi, tidak salah jika banyak pihak bertanya-tanya 'sepakan' apalagi yang akan dilakukan seorang Alexander Rusli. Kita tunggu saja tanggal mainnya. [ipe]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA