Ini Potensi Kewirausahaan Bagi Disabilitas

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 19 September 2020
share
 

INILAHCOM, Garut - Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos RI Harry Hikmat menjadi pembicara dalam Kegiatan Peningkatan Kapasitas Pegawai Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Inten Suweno Cibinong bertajuk Potensi Penyandang Disabilitas Dalam Memasuki Dunia Kerja di Garut, Jawa Barat.

Harry menjelaskan, kegiatan tersebut untuk menyesuaikan dengan arah kebijakan strategi maupun program rehabilitasi sosial. Salah satunya melibatkan fungsi Balai Besar sebagai pusat layanan sosial bagi penyandang disabilitas.

"Sudah tentu penyesuaian-penyesuaian sudah dilakukan dan dipastikan bahwa itu mempunyai posisi strategis dalam memberikan pelayanan sosial. Karena itu dilakukan diferensiasi fungsi peran pemerintah pusat (Kemensos) melalui Direktorat Teknis dengan Unit Pelaksana Teknis(UPT) Kemensos," ujar Harry di Garut, Jawa Barat, Kamis (17/9/2020).

Ia menambahkan, Program Rehabilitasi Sosial berada di bawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial dan dilaksanakan oleh UPT.


"Dalam prakteknya secara faktual mereka sudah multifungsi tapi perlu diperkuat dari sisi aspek hukum. Makanya akan ada peraturan tentang asistensi rehabilitasi sosial yang optimalkan fungsi-fungsi keberadaan Balai. Hal ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Sosial Juliari P Batubara," kata dia.

Harry melanjutkan, dari UPT sebagai pusat layanan, pusat rujukan, pusat pengembangan sistem dan ini akan berjejaring dengan lembaga-lembaga Kesejahteraan Sosial, organisasi penyandang disabilitas, untuk melakukan aksi nyata di masyarakat.

Dalam acara tersebut Harry juga memaparkan soal potensi kewirausahaan bagi penyandang disabilitas.

"Ini ada persoalan mengenai kapabilitas,ada persoalan vokasi atau skill. Kapabilitas bukan berarti mereka tidak bisa inklusif dalam kehidupan sehari-hari. Hanya mereka butuh akomodasi yang layak dengan alat bantu, jadi akomodasi termasuk lingkungan sekitarnya kalau dia melakukan mobilitas pastikan tersedia aksesibilitasnya, difasilitasi lingkungan yang ramah disabilitas," ungkap Harry.

Menurut Harry, hal tersebut dilakukan melalui pelatihan-pelatihan yang variatif yang sesuai dengan kemampuan dasar dari vokasi serta karakteristik mereka. Saat ini, kata Harry, cukup banyak penyandang disabilitas yang menjadi pengusaha. Beragam manfaat didapatkan, agar mewujudkan disabilitas yang mandiri dan sejahtera.

"Banyak ya. Mereka yang sudah berhasil manfaatnya mereka bisa memutus disabilitasnya supaya tidak merasa terhambat. Dia bisa inklusif bermasyarakat, secara ekonomi dia bisa sejahtera. Dia bisa menghidupi dirinya sendiri dan mereka bisa menularkan. Itulah fungsi Balai untuk menjadi testimoni atau inspirator untuk disabilitas yang lain yang sudah sukses. Nah itu kita sering mengadakan acara dan menghadirkan best practice maupun enterpreneur yang berhasil, jadi saya sangat mendorong enterpreneurship," terangnya.

Ia pun menegaskan, Rehabilitasi Sosial bukan hanya perubahan sikap perilaku,tetapi harus ada peningkatan dan pendayagunaan potensi yang mereka miliki, sehingga untuk kemandirian mereka itulah melalui kewirausahaan.

"Kita jangan memproduk juga penerima manfaat disabilitas yang siap jadi pegawai, terbatas kan jumlahnya tadi dari data statistik, yang bisa akses masih tidak layak, fasilitas tidak memadai di perusahaan, rendahnya komitmen HRD. Padahal, kita bisa mengajak mereka jadi entrepreneur, menjadi wirausaha mandiri dan itu dimungkinkan dengan atensi dari asesmen sampai pelayanan dan after care kewirausahaan," jelas Harry.

Sementara itu, Kepala BBRVPD Cibinong Manggana Lubis mengatakan,saat ini BBRVPD Cibinong memberikan pelayanan kepada penyandang disabilitas sebanyak 24.226 orang, yang terdiri dari program pelayanan Rehabilitasi Vokasional kepada 526 orang penyandang disabilitas, dan untuk 23.700 orang penyandang disabilitas melalui program bantuan cash transfer ASPD di seluruh Indonesia baik berbasis LKS maupun perorangan.

Dari 23.700 penerima bantuan sosial non tunai ASPD dibagi 2 gelombang penyaluran, yaitu gelombang 1 sebanyak 17.532 orang penyandang disabilitas, yang terdiri dari : penerima perorangan 12.571, penerima melalui LKS 4.961 tersebar di 33 Provinsi dan 340 Kabupaten/Kota, yang masing-masing menerima bantuan sebesar Rp2 juta per orang.

Untuk Provinsi Jawa Barat tahun 2020 sebanyak 1.506 orang penyandang disabilitas yang terdiri dari: penerima perorangan 977 Penerima melalui LKS 529.

Dalam kesempatan itu, Harry juga sempat berdialog dengan orangtua salah satu Penerima Manfaat Penyandang Disabilitas Intelektual yang mengalami disabilitas intelektual lambat belajar. Sang Ibu, Sariah menyampaikan terimakasih atas pemberian bansos tersebut karena digunakan untuk menunjang perlengkapan terapi anaknya.

"Alhamdulillah sudah menerima Rp2 juta. Bantuannya dimanfaatkan untuk menunjang terapi, dia itu lambat belajar. Bantuannya juga saya sisihkan untuk beli sembako agar tercukupi kebutuhan nutrisinya " kata Sariah.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA