Diduga Palsukan Akta, Oknum Notaris Dipolisikan

IN
Oleh inilahcom
Kamis 24 September 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Diduga palsukan tandatangan akta jual-beli saham PT. Graha Mahardika dengan No Akta 20 tertanggal 11 Januari 2013, seorang Notaris bernama Otty Hari Chandra Ubayani dilaporkan ke Polda Metro Jaya.

Dimana Akta tersebut diduga digunakan untuk penipuan dan penggelapan oleh Terpidana Tedja Widjaja sesuai petikan Putusan Mahkamah Agung No. 15K/Pid/2020 tertanggal 09 April 2020.

Kemudian, Akta yang diduga palsu tersebut telah dikonfirmasi dan dinyatakan langsung terpidana Tedja widjaja baik dalam persidangan pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara No. 1087/Pid.B/2018/PN.JKT.UTR tahun 2018 dan sudah berkekuatan hokum tetap(incracht) sesuai dengan keputusan Mahkamah Agung No. 15K/Pid/2020 tertanggal 09 April 2020, maupun pemeriksaan pada BAP di Polda Metro jaya.

Lokasi tanah yang dipalsukan tandatangan aktanya berada di samping Universitas 17 Agustus 1945 di Sunter, Jakarta.

"Di mana akte itu seolah-olah terjadi jual-beli antara Rudyono Darsono (pelapor) dan anaknya sendiri yaitu Michele Darsono," ungkap Ketua Tim Hukum Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta, Anton Sudanto, Kamis (24/9/2020).

Setelah melapor ke PMJ, Otty tak bisa membuktikan keabsahan akta karena tidak ada tandatangan pembeli, Michele.

"Ternyata Polda mendapati buktinya tidak ada tandatangan Michele Darsono dan adanya coretan-coretan yang seolah-olah dari Rudyono darsono," paparnya.

Pasalnya, Michele sedang berada di AS dan tidak memungkinkan untuk melakukan tandatangan.

Hal itu dibuktikan dengan paspor dan cap visanya dan darii sekolahnya bahwa Michele sedang di AS.

"Sudah dibuktikan ke Majelis yang menyidangkan. Bukti sudah dikasi semua. Dan tidak ada tandatangannya terbukti," tuturnya.

Sementara itu, Penyidik jatanras Polda Metro Jaya yang menangani kasus LP 1100 Ipda Sugiono pada saat itu yang menangani Perkara pemalsuan akta, menyebut minuta akta tersebut didapatkan dari perkara No. 1100/PMJ.

"Dimana minuta akta tersebut, tidak ada tandatangan Bu Michelle," ungkap Sugiono.

Lebih lanjut, Anton menegaskan, jika terus dibiarkan, pemalsuan akta ini dapat digunakan untuk hal yang merugikan bagi masyarakat.

"Bayangkan akte itu digunakan untuk akte-akte lain, bisa berbahaya," tegasnya.

"Maka dibutuhkan para pengawas Notaris yang berintegritas yang mengemban tugas Negara karena salah satu biang kerok timbulnya akta-akta fiktif atau palsu karena tidak ada pengawasan," tambahnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA