Gatot Ingin Simpati Tapi Lupa Jokowi Lebih Populer

IN
Oleh inilahcom
Jumat 25 September 2020
share
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo

INILAHCOM, Jakarta - Pegiat media sosial, Denny Siregar, menilai narasai yang disampaikan oleh mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, hanyalah upaya memantik simpati masyarakat terhadapnya. Sehingga, bisa dijadikan modal untuk maju bertarung di Pilpres 2024 mendatang.

"Sebenarnya, narasi dipecat krn nobar PKI itu narasi pamungkas, spy timbul simpati rakyat dan dukungan menguat. Modal dilamar partai di 2024," tulis akun Twitter @Dennysiregar7, dikutip Jumat (25/9/2020).

Meski demikian, lanjut Denny, dugaan strategi yang dimainkan Gatot tidak memperhitungkan soal popularitas Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang lebih tinggi daripada mantan Panglima TNI sekaligus salah satu deklator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) itu.

"Tapi doi lupa, ini masih era @jokowi yg popularitasnya jauh lbh kuat. Mungkin kalo dilakukan di masa @SBYudhoyono bisa beda hasilnya," kata Denny.

Diketahui, isu PKI dan nama Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, sedang ramai diperbincangkan. Hal ini menyusul dalam sebuah video di channel YouTube Hersubeno Point, Gatot mengklaim mengendus bangkitnya PKI gaya baru sejak 2008.

Mantan Panglima TNI ini, juga mengaku dipecat dari jabatannya, karena ada kaitan dengan imbauannya menonton film G30S/PKI.

Gatot juga membeberkan bahwa ada seorang sahabat di PDIP yang sudah mengingatkan dirinya agar tidak melanjutkan anjuran menonton film G30S/PKI.

"Pada saat itu, saya punya sahabat dari salah satu partai, saya sebut saja partai PDI, menyampaikan, 'Pak Gatot, hentikan itu, kalau tidak pasti Pak Gatot akan diganti'," ungkap Gatot Nurmantyo dalam video di akun YouTube Hersubeno.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA