Manfaatkan Limbah Sawit

Sekolah Binaan Anak Usaha Astra Agro Rajin Inovasi

IN
Oleh inilahcom
Senin 28 September 2020
share
 

INILAHCOM, Pasangkayu - Mungkin tak banyak yang kalau kalau pohon kela sawit bermanfaat mulai akar hingga daunnya. Perlua kreatif dan inovasi untuk menggali potensi ekonomi si emas bundar ini.

Adalah SMP Astra Makmur Jaya, binaan PT Letawa anak usaha PT Astra Agro Lestari (AAL) Tbk Grup Area Celebes, yang terus berinovasi dengan memanfaatkan sawit.

Sebagai sekolah yang berlokasi di tengah areal perkebunan kelapa sawit PT Letawa, Desa Makmur Jaya, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar) itu, terus memanfaatkan dan memaksimalkan potensi lokal.

Sekolah bermotto Sekolahnya Sang Juara ini, tergolong rajin melakukan terobosan baru yang sangat menggugah dan inspiratif. Kali ini, para siswanya mengeksplorasi limbah dari kelapa sawit yakni lidi.

Selama ini, lidi kelapa sawit dibiarkan tergeletak begitu saja di dalam blok sawit. Kalaupun dimanfaatkan hanya sebagai sapu lidi saja. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, lidi kelapa sawit kalau diproses bisa menjadi bahan baku kerajinan tangan. Tentu saja, nilai ekonominya cukup menggiurkan.

Berangkat dari pemikiran itu, sekolah yang dipimpin Adi Dasuki ini, menggelar lomba kerajinan tangan berbahan lidi pelepah kelapa sawit. "Kami mengadakan lomba kerajinan tangan dengan bahan dari lidi sawit ini didasarkan atas banyaknya lidi sawit yang tersedia di perkebunan dan besarnya potensi ekonomi yang dikandung oleh lidi kelapa sawit ini," kata Kepala Sekolah (Kepsek) SMP Astra Makmur Jaya, Adi Dasuki di Pasangkayu, Sulbar, Minggu (27/9/2020).

Menurut dia, lomba yang melibatkan siswa SMP Astra Makmur Jaya ini diharapkan kedepannya mampu melatih daya kreativitas siswa, kepekaan siswa terhadap potensi lingkungan sekitar, dan menjadi pelopor bagi masyarakat luas agar turut serta meningkatkan nilai ekonomis lidi sawit guna menambah pundi-pundi rupiah bahkan dollar.

"Kegiatan lomba kerajinan tangan ini juga merupakan salah satu bentuk aplikasi dan pengembangan dari mata pelajaran muatan lokal (mulok) Pendidikan Lingkungan Kebun Kelapa Sawit (PLKS). Mulok PLKS diterapkan di seluruh sekolah binaan Yayasan Astra Agro Lestari," tutur Adi Dasuki.

Ia menjelaskan, lomba kerajinan tangan ini dimulai tanggal 7 hingga 21 September 2020, diikuti secara individu, dimana siswa yang mengikuti perlombaan ini diminta untuk merekam proses pembuatan dari awal hingga akhir dalam bentuk video berdurasi maksimal 5 menit, dan video dikirimkan kepada wali kelas masing-masing.

"Setiap wali kelas memilih lima karya terbaik untuk dinilai oleh tim dewan juri. Lima karya terpilih dari setiap kelas wajib menyerahkan video dan fisik produk. Tim dewan juri dalam perlombaan ini adalah guru pembina Hadiana, Kepala TK Sari Wiwit Andi Rosma, dan saya sendiri," jelas Adi.

Dirinya mengemukakan, dari 29 peserta lomba kerajinan dengan bahan lidi sawit, berdasarkan hasil penilaian dewan juri, maka ditetapkanlah tiga pemenang, dimana juara I diraih Dial Fakih Fauzi (VII-B), juara II diraih Ibram Rahalang (VII-D), dan juara III diraih Agung Kaia (VII-A).

"Atas pencapaiannya, para juara diberikan hadiah uang pembinaan masing-masing sebesar Rp450.000, Rp 350.000, dan Rp200.000. Hadiah diserahkan oleh dewan juri dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19," ujar Adi.

Dial Fakih Fauzi merasa sangat senang dinyatakan sebagai Juara I dalam lomba kerajinan tangan dengan bahan dari lidi sawit. "Semoga kedepannya lomba seperti ini bisa terus diselenggarakan. Lomba ini sangat baik untuk melatih kreativitas dan melestarikan budaya Indonesia," tutur Fauzi setelah acara penyerahan hadiah berakhir di lobi SMP Astra Makmur Jaya.

Fauzi mengaku sangat bersemangat ketika mendengar adanya lomba lidi sawit. Setelah mendapat izin dan restu orang tua, Fauzi menyiapkan bahan dan peralatan. Remaja kelahiran Bone, 3 September 2007 ini, memilih membuat miniatur kapal Phinisi.

"Saya memerlukan waktu kurang lebih 14 jam untuk mengerjakannya, dari mencari bahan lidi sawit sampai tahap finishing selama tujuh hari. Saya memilih membuat kapal Phinisi karena saya ingin melestarikannya," ujar Fauzi.

Dirinya mengakui menjadi sebuah kewajiban sebagai putra daerah Sulawesi Selatan untuk ikut serta melestarikan kebudayaan daerah asal. "Melalui karya kerajinan tangan ini, saya ingin mengingatkan dan mengajak generasi muda untuk tidak melupakan warisan nenek moyang. Kapal Phinisi bukan hanya milik Sulawesi Selatan saja, namun kapal Phinisi adalah milik Indonesia. Dan wajib dilestarikan," pesan Fauzi.

Putra dari Bapak Jamaluddin menyatakan bahwa dirinya akan terus mengembangkan kreativitasnya memanfaatkan lidi kelapa sawit. "Saya siap menerima pesanan apabila di kemudian hari ada yang berminat memiliki miniatur kapal Phinisi. Saya yakin bisa mengerjakan lebih cepat dari sebelumnya," ujar Fauzi.

Adi Dasuki ucapkan terimakasih kepada seluruh siswa yang sudah berpartisipasi di kegiatan ini. "Saya ucapkan selamat kepada pemenang. Semoga bisa terus semangat berkarya. Bagi yang belum menjadi juara, jangan berkecil hati, terus berlatih dan terus berkarya," imbuh Adi. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA