Pengakuan Ahmad Habisi PSK Usai Berhubungan Badan

IN
Oleh inilahcom
Selasa 29 September 2020
share
 

INILAHCOM, Surabaya - Sidang perkara pembunuhan sadis terhadap terapis online, digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (28/9/2020). Adalah Ahmad Junaidi Abdillah yang menjadi Terdakwa dalam kasus ini.

Akibat perbuatan sadis yang dia lakukan terhadap Ika Puspita Sari di Apartemen Puncak Permai Tower A, Surabaya, terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut secara hukum.

Dalam sidang kali ini, ada empat saksi yang didatangkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suwarti guna didengarkan keterangannya. Empat orang saksi yang terdiri dari dua orang security apartemen, tukang parkir, dan adik ipar korban.

Dari pantauan jalannya persidangan, dua security dan tukang parkir membenarkan bahwa terdakwa datang ke Apartemen Puncak Permai Tower A, pada saat kejadian perkara, dengan menggunakan sepeda motor Beat dan setelan baju yang ditunjukkan oleh JPU Suwarti.

"Benar, Bu Jaksa," ujar para saksi tersebut.

Sedangkan, saksi adik ipar korban menyampaikan bahwa ia mengetahui jika korban dibunuh setelah petugas Polrestabes Surabaya, mendatangi rumahnya di Semarang.

"Saya tahunya waktu polisi datang ke rumah saya di Semarang. Setelah mendapat kabar kakak ipar saya meninggal, saya langsung ke Surabaya. Ke ruang jenazah rumah sakit," katanya.

Ketua majelis hakim Mohammad Basir, ketika menanyakan terkait kondisi terakhir korban di ruang jenazah, adik ipar korban mengatakan terdapat luka sobek menganga di leher korban.

"Di lehernya ada luka sobek, lebar Pak Hakim," jelasnya.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, terdakwa Ahmad Junaidi Abdilah, saat diminta tanggapannya dengan terus terang membenarkan.

"Benar, Yang Mulia," ujar terdakwa.

Terpisah, JPU Suwarti saat ditemui usai jalannya sidang menyampaikan bahwa pada intinya terdakwa mengakui dan membenarkan semua keterangan saksi. Sedangkan terkait pasal yang didakwakan, Suwarti mengatakan bahwa terdakwa dijerat dengan 3 pasal berlapis.

"Terdakwa dijerat dengan pasal 340, 338, dan 362 KUHP. Ada pencuriannya, soalnya handphone korban hilang," tandas Suwarti.

Untuk diketahui, awal mula terjadinya kasus ini ketika terdakwa membuka aplikasi pertemanan di media sosial Michat. Kemudian terdakwa menemukan akun milik Ika Puspita Sari (korban) dengan nama Vania.

Singkat kata, antara terdakwa dan korban terjalin komunikasi terkait tawar menawar untuk menggunakan jasa layanan pijat dan seks. Setelah disepakati terdakwa mendatangi korban di apartemen puncak permai tower A, dengan nomer kamar 0857.

Usai melakukan hubungan seksual, terdakwa kemudian memberikan uang sebesar Rp 250 ribu. Mengetahui dibayar separuh dari kesepakatan awal yakni Rp 500 ribu, korban lantas mengumpat dan memaki terdakwa.

Merasa tersinggung dengan kata-kata korban, terdakwa yang melihat sebuah pisau di dapur, lantas mengambilnya dan membunuh korban. [beritajatim]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA