Covid Dorong Perubahan Kultur Transportasi Publik

IN
Oleh inilahcom
Rabu 30 September 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan, Polana B. Pramesti sepakat bahwa pandemi Covid-19 dapat menjadi faktor pendorong perubahan kultur bertransportasi publik.

Hal tersebut disampaikan Polana di kantornya usai menjadi salah satu narasumber pada webminar "Langkah Sehat" di Masa Pandemi Covid-19", Senin (28/9/2020) lalu. Melalui keterangannya yang diterima, Rabu (30/9), pernyataan Polana tersebut khususnya menanggapi pendapat pengamat transportasi Yayat Supriatna yang menjadi salah satu nara sumber webminar tersebut.

"Masyarakat menjadi lebih teratur dalam hal antrean, disiplin penggunaan masker, tidak mengobrol saat berada di bus dan kereta KRL atau MRT, serta jaga jarak saat berada di bus atau kereta api," kata Yayat.

Lebih lanjut, Yayat menjelaskan jika operator transportasi dikelola dengan baik serta mendapat arahan yang jelas, ternyata bisa mendorong perubahan.

"Artinya, pandemi telah mendorong struktur yang membangun atau mengubah kultur, "tutur Yayat

Menurut Polana situasi perubahan tersebut terjadi karena adanya partisipasi semua pihak tidak terkecuali kesadaran dari para pengguna transportasi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu dalam melaksanakan protol kesehatan.

"Tentunya Pemerintah berterima kasih atas partisipasi dan kesadaran yang semakin meningkat di kalangan pengguna transportasi, " tambah Polana.

Menurut Polana kerja keras yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menyusun regulasi dan menerapkan potokol kesehatan di sektor transportasi bersama operator dan stakeholder lainnya pada akhirnya membuahkan hasil meski proses yang dilalui tidak mudah.

Lebih lanjut Polana menjelaskan bahwa pemerintah akan terus menyikapi kondisi ini dengan berbagai langkah yang diharapkan mendorong perubahan-perubahan positif yang lain. Misalnya tentang implementasi kebijakan transportasi ramah lingkungan dengan mendorong peningkatan penggunaan Non Motorized Transportation (NMT).

"Non Motorized Transportation dimanapun di dunia ini sebenarnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari urban transport, hanya saja di Indonesia khususnya di Jabodetabek belum terlalu memasyarakat, "kata Polana.

Kondisi saat ini menurut Polana lebih memberikan peluang untuk mendorong jalan kaki dan bersepeda menjadi pilihan masyarakat bertransportasi untuk jarak -jarak yang terjangkau dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

"Pemanfaatan Non Motorized Transportation juga dapat dilakukan pada tahapan first mile maupun last mile saat menggunakan angkutan umum massal," tutur Polana.

Bahkan bagi para pengguna sepeda, saat ini BPTJ tengah menyiapkan fasilitas bagasi gratis bagi pengguna Jabodetabek Residence Connexion ( JR Connexion ) yang membawa sepeda lipat.

"Dengan rencana tersebut, pengguna bus yang tinggal di kawasan Jabodetabek dapat membawa sepeda untuk digunakan pada tahapan first mile dan last mile setelah menggunakan angkutan umum massal," jelas Polana.

Acara webminar yang diselenggarakan BPTJ itu sendiri juga menghadirkan narasumber lain yaitu HS Dillon Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia serta dr. Cindiawaty seorang Spesialis Gizi Klinik.

Dalam penyampaian materinya Harya S. Dillon juga menyetujui bahwa pandemi Covid-19 telah mengubah kultur masyarakat ketika bertransportasi. Dillon juga menyarankan bahwa seluruh pemangku kepentingan dapat membuat standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan layanan transportasi publik seperti di tengah pandemi saat ini.

Sementara, dr. Cindiawaty mengungkapkan bahwa selain asupan gizi seimbang penerapan protokol kesehatan hendaknya dilaksanakan di setiap aktivitas, tidak hanya saat bertransportasi namun juga ketika melakukan kegiatan lainnya.

Layanan E-Ticketing di Terminal Tipe A Jatijajar dan Aplikasi Lacak Trans

Selain itu, pandemi Covid-19 juga menjadi momentum BPTJ untuk melakukan berbagai pembenahan terkait layanan dengan memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih sehat dan efisien.

"Contohnya melalui peluncuran layanan e- ticketing di Terminal Tipe A Jatijajar Depok dan aplikasi Lacak Trans oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia," ujar Polana.

Menurut Polana, saat ini jumlah penumpang angkutan umum mengalami penurunan dibandingkan pada kondisi normal. Momen ini menjadi kesempatan untuk melakukan pembenahan melalui penerapan layanan e-ticketing.

"Harapannya setelah pandemi usai, e-ticketing akan menjadi kelengkapan layanan terminal. Sementara di tengah pandemi ini, layanan e-ticketing ini diharapkan dapat membantu mengurangi potensi kontak fisik secara langsung," ujar Polana.

E-ticketing merupakan sistem elektronik berupa layanan digital yang sudah tersedia di Terminal Tipe A Jatijajar, Kota Depok. Layanan e-ticketing Terminal Jatijajar memiliki tiga fitur utama, yaitu Check in AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) berfungsi mencetak tiket /boarding pass bus AKAP, Check in AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) berfungsi mencetak tiket /boarding pass bus AKDP, dan GO SHOW yang berfungsi sebagai fitur pembelian tiket pada vending machine.

Sementara Lacak Trans merupakan sebuah aplikasi yang dikembangkan untuk masyarakat Jabodetabek guna memantau risiko penularan Covid-19 baik di daerah mereka berada, di daerah yang akan mereka tuju, di kendaraan yang akan mereka tumpangi, maupun di sepanjang rute jalan yang akan mereka lalui.

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA