Kasus Mutilasi

Warga Apartemen Kalibata City Merasa Kena Getahnya

IN
Oleh inilahcom
Kamis 01 Oktober 2020
share
 

Kasus pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan oleh Laeli Atik Supriyatin alias LAS (27) dan Djumadil Al Fajar alias DAF (26) belum lama ini membuat warga Apartemen Kalibata City merasa geram. Warga setempat merasa ikut kena getahnya atas aksi pembunuhan dan mutilasi yang sebenarnya dilakukan di apartemen wilayah Pasar Baru, Jakarta Pusat.

"Pelaku melakukan aksinya itu di Pasar Baru, dan menitipkan di salah satu unit Kalibata City. Rencananya pelaku mau mengubur di Depok tapi ketahuan polisi duluan. Hal itu juga sudah di rilis oleh Kepolisian, tapi pemberitaan yang muncul justru banyak negatif ke Kalibata City," kata Syachrul, salah satu penghuni Tower Damar, Apartemen Kalibata City.

Syachrul A., 49, mengatakan meskipun bukan kali ini saja tempat tinggalnya menjadi headline pemberitaan media massa, ia mengaku tetap nyaman dengan lingkungan Kalibata City. Menurutnya, publik hanya melihat ketika terjadi suatu kasus saja. Padahal kata dia, banyak sisi positif lain yang ada dilingkungannya itu.

Dia dan keluarga mengaku merasa memiliki keluarga baru yang sangat solid sejak tinggal di Apartemen Kalibata City pada tahun 2011. Menurutnya rasa kekeluargaan antar penghuni ini sulit didapat apabila tinggal di apartemen lainnya.

"Kalau di apartemen lain mungkin individulitasnya tinggi, tapi disini tidak," ujarnya.

Salah satu buktinya, di Kalibata City ini banyak memiliki komunitas. Mulai dari komunitas religius, komunitas sosial, komunitas hewan peliharaan, hingga komunitas berdasarkan hobi seperti catur, tenis meja, futsal, renang, senam, dan lainnya. Syachrul mengatakan, sudah 7 tahun berturut-turut sebelum pandemi Covid-19, warga apartemen Kalibata City memiliki beragam kegiatan di setiap komunitas-komunitas tersebut.

Tidak hanya itu, berbagai fasilitas yang ada di kawasan ini membuat berbagai kebutuhan para penghuni mudah didapat. Begitu pun dengan sarana moda transportasi mulai dari stasiun kereta listrik (KRL), shelter ojek online hingga halte Trans Jakarta.

"Dulu ada tetangga saya pindah ke rumah tapak di pinggir Jakarta, setelah setahun dia balik lagi kesini. Saya tanya kenapa balik lagi, dia jawab lebih enak di Kalibata City karena semua ada disini. Kalau lapar tengah malam, tinggal turun ke bawah masih ada warung makan yang buka," cerita Syachrul yang juga menjabat sebagai Ketua Komunitas Tenis Meja dan Futsal di Kawasan Kalibata CIty.

Rudi, penghuni apartemen Kalibata City lainnya menambahkan rasa kepedulian antar penghuni juga tidak hanya antar penghuni apartemen saja, tetapi juga kepada lingkungan sekitar. Misalnya, pada saat Ramadhan, setiap buka puasa penghuni selalu mengadakan buka puasa bersama anak yatim dan memberikan sembako. Baik itu kepada warga sekitar, maupun kepada para penjaga keamanan, office boy, engineering dan lainnya.

"Begitu pun pada saat natalan. Jadi hubungan antar agama di Kalibata City ini terjalin dengan sangat baik. Acara Agustusan dan donor darah juga rutin kami lakukan," ujarnya.

Oleh karenanya, para penghuni apartemen Kalibata City menyayangkan jika ada oknum atau pihak yang membuat citra Kalibata City menjadi negatif. "Di sini ada 18 tower yang didalamnya total ada 13.580 unit. Jika satu unit diisi oleh dua orang saja, berarti ada 26 ribu jiwa, dan itu banyak sekali. Satu kejadian oleh oknum bisa merusak citra seluruhnya. Padahal masih banyak hal-hal positif yang tidak terekspose," tegasnya.

General Manager Apartemen Kalibata City Ishak Lopung mengungkapkan pasca kejadian beberapa pekan lalu, pihaknya semakin memperketat keluar masuk orang yang bukan penghuni. Selain untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para penghuni, pengetatan itu juga dilakukan agar tidak ada lagi kejadian yang berpotensi mencoreng nama baik Apartemen Kalibata City.

"Sekuriti akan lebih aktif menanyakan dan mengawasi dengan seksama. Kami juga akan black list, agen-agen properti yang kedapatan menyewakan harian," ujar Ishak.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA