Kata Peneliti Soal Kritik Fahri-Fadli Zon Soal BIN

IN
Oleh inilahcom
Senin 12 Oktober 2020
share
 

Fahri Hamzah dan Fadli Zon baru-baru ini mengkritik Badan Intelijen Negara (BIN) yang memiliki juru bicara untuk menyampaikan informasi tertentu kepada publik.

Menurut Fahri dan Fadli, intelijen tidak boleh bicara kepada publik seperti halnya juru bicara BIN menyampaikan informasi tentang aksi demonstrasi penentang Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Terakait itu, peneliti intelijen Ridwan Habib menilai komentar kedua politikus tersebut kurang tepat dan malah seolah ketinggalan zaman.

"Bang Fahri dan Bang Fadli masih terbawa nuansa intelijen di era Orde Baru yang kesannya misterius dan tertutup," kata Ridlwan, di Jakarta.

Padahal, dalam disiplin ilmu intelijen modern, justru lembaga-lembaga intelijen profesional di seluruh dunia punya juru bicara.

"CIA, misalnya, punya juru bicara, seorang wanita, namanya Nicole de Hay," ujar alumnus Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia itu.

Selain CIA, lembaga intelijen Inggris di bidang sinyal intelijen GCHQ juga punya juru bicara.

"GCHQ Inggris punya akun Twitter, dan ada juru bicara, namanya Andrew Pike."

Fungsi juru bicara juga ada di lembaga intelijen Australia, yakni Australia Security Intelligence Organization (ASIO). Lembaga itu bahkan memiliki agenda rutin informasi kepada pers setempat.

Fungsi juru bicara lembaga intelijen, katanya, bukan untuk membongkar misi rahasia, melainkan memberikan penjelasan kepada publik tentang berbagai isu. Tugas lembaga intelijen modern untuk memberikan informasi kepada kepala negara atau kepala pemerintahan tetap berjalan tetapi masyarakat pun bisa memperoleh informasi yang akurat.

CIA bahkan melakukan rekrutmen online karena pandemi COVID-19. Selain itu CIA juga punya saluran YouTube yang mudah diakses warga. Bahkan mereka punya situs CIA for Kids untuk anak-anak usia sekolah dasar.

"Lembaga intelijen kita perlu belajar dari lembaga lain di seluruh dunia agar makin modern dan profesional," katanya.

Fahri dan Fadli sebelumnya mengkritik Juru Bicara BIN Wawan Purwanto yang dalam sebuah wawancara menyebutkan bahwa intelijen sudah mendapatkan identitas aktor yang menjadi sponsor dan memobilisasi massa demonstrasi penolakan terhadap Undang-Undang Cipta Kerja.

"Seharusnya informasi intelijen tidak boleh disiarkan kepada publik," kata Fahri lewat akun media sosialnya. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA