Selamatkan Peternak Mandiri

PATAKA Desak Kementan Beri Sanksi Integrator Nakal

IN
Oleh inilahcom
Selasa 13 Oktober 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Upaya pemerintah mendukung berkembangnya petani ayam mandiri, kembali menemui aral. Program pembatasan produksi ayam di industri pembibitan menemui jalan buntu alias gatot (gagal total).

Direktur Perbibitan dan Produksi, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), Sugiono mengakui capaian pembatasan produksi bibit ayam, tidak sesuai harapan.

Banyak perusahaan pembibitan ayam atau integrator tidak mematuhi dua surat edaran (SE) Kementan yang bertujuan untuk stabilitasi supply and demand ayam ras. Akibatnya, petani ayam mandiri harus menanggung kerugian hingga miliaran rupiah.

Dua beleid yang dimaksud adalah SE No 09246/SE/PK.230/F/08/2020 tentang Pengurangan DOC FS Ayam Ras Melalui Cutting HE, Penyesuaian Setting HE dan Afkir Dini PS Tahun 2020; serta SE 9663/SE/PK.230/F/09/2020 tentang Pengurangan DOC FS Bulan September 2020. "Kita sudah sangat serius sejak dahulu, cuma dipangkas berapapun ada saja alasannya," kata Sugiono dalam webinar yang digelar Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi, Selasa (13/10/2020).

Terkait integrator bandel, Sugiono mengatakan, kementan hanya mampu melayangkan surat teguran saja. Tidak ada sanksi ataupun hukuman yang menimbulkan efek jera bagi industri yang jelas-jelas berani melanggar aturan yang dibuat pemerintah.

Selanjutnya dia memaparkan sejumlah upaya Kementan dalam memangkas produksi ayam dan penyerapan produksi ayam peternak. Melalui afkir dini indukan ayam usia lebih dari 50 minggu, tunda setting telur tetas untuk kegiatan sosial, pemusnahan telur fertil, serta penyerapan ayam hidup.

Pada upaya afkir dini bulan September, target 4,05 juta ekor ayam betina, hanya mencapai 2,6 juta (65%). Untuk ayam jantan ditargetkan 344,8 ribu ekor, terealisasi 246,2 ribu (71%).

Untuk upaya tunda setting telur periode 19 September-10 Oktober, realisasinya 6,6 juta butir. Atau 88% dari target 7,5 juta butir. Sebanyak 23 perusahaan sudah menjalankan 100% dari target, sementara 15 perusahaan tidak serius menjalankannya.

Adapun untuk upaya pemusnahan telur fertil, pada Agustus 2020 hanya mencapai 12,4 juta butir, atau 89,1% dari target 14 juta butir. Sementara pada September dari target 65,9 juta butir, teralisasi 44,8 juta butir (67,97%).

Langkah terakhir dalam penyerapan ayam hidup juga belum sesuai yang diharapkan. Sepanjang Agustus 2020, realisasi penyerapan mencapai 41,6 juta ekor atau 60,17 persen dari target sebanyak 25,06 juta ekor. Adapun di bulan September 2020, serapan mencapai 45,1 juta ekor atau 46,4 persen dari target 97,3 juta ekor.

Sugiono mengatakan, kementan menggandeng Satgas Pangan dalam melakukan pengawasan terhadap perusahaan integrator ayam. "Ada beberapa perusahaan yang meminta penundaan (pemangkasan). Tapi kami tidak peduli dengan masalah mereka, tugas saya adalah menjaga suplai, tidak ada hitung-hitungan dengan bisnis," kata dia.

Dalam kesempatan sama, Ketua PATAKA, Yeka Hendra Fatika mendesak satgas pangan dan kementan untuk berani menindak tegas perusahaan pembibitan ayam atau integrator nakal. Dalam catatan PATAKA ada lima perusahaan yang layak diberikan catatan hitam termasuk sanksi yakni PT KMS, Malindo, Pia Group, PT Suja dan PT Wonokoyo. "Kontribusi afkir dini dari kelima perusahaan itu mencapai 32,5%. realisasi afkir dininya baru 25%. Terhadap kelompok ini, sudah selayaknya pemerintah dan satgas pangan berani bertindak tegas," papar Yeka.

Selain itu, Yeka melanjutkan, PATAKA mendesak adanya transpransi terkait serta membua partisipasi publik terkait upya stabilisasi harga ayam ras. "Ingat, publik berhak tahu akan program ini. Mari kita kawal bersama. karena ini menyangkut kepentingan publik juga. Menyangkut upaya pemenuhan kebutuhan protein rakyat," ungkapnya.

Masih kata Yeka, organisasi peternak seharusnya dilibatkan dalam implementasi program stabilisasi supply and demand ayam ras. Sehingga pemerintah tidak menjadi bulan-bulanan perusahaan integrator ayam yang nakal. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA