Reaksi Tokoh Tionghoa Soal Aktivis KAMI Diborgol

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 17 Oktober 2020
share
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak), Lieus Sungkharisma mengkritik perlakuan polisi terhadap sejumlah tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), yakni Sekretaris Komite Eksekutif KAMI, Syahganda Nainggolan, deklarator KAMI, Jumhur Hidayat dan Anton Permana serta sejumlah aktivis lainnya.

Kritik dilontarkan Lieus terkait konferensi pers yang digelar di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (15/10/2020) kemarin, dimana Syahganda cs yang kini telah berstatus tersangka dugaan penghasutan terkait demo ricuh tolak UU Cipta Kerja itu dihadirkan di hadapan media dengan mengenakan baju tahanan berwarna oranye serta tangan diborgol.

Lieus berpendapat, pemakaian baju tahanan dengan mengikat tangan mereka menggunakan borgol itu sangat merendahkan martabat dan terkesan sengaja dilakukan polisi sebagai tindakan dengan maksud menghinakan para tersangka.

Padahal, menurut Lieus, belum pernah ada koruptor di negeri ini yang sudah terang-terangan merugikan negara miliaran bahkan triliunan rupiah diperlakukan seperti itu oleh polisi.

"Tidak ada koruptor yang ditangkap polisi dan dipamerkan ke publik dengan tangan diborgol..Perlakuan polisi itu sungguh disayangkan. Mereka ini bukan koruptor. Juga bukan pelaku kriminal. Mereka ditangkap hanya karena menyatakan pendapat yang berbeda dengan kehendak pemerintah. Kenapa mereka diperlakukan seperti itu? Ini jelas perlakukan yang sangat tidak adil dari aparat kepolisian dalam penegakan hukum," kata Lieus dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/10/2020).


Apalagi, lanjut Lieus, para aktivis itu jangankan diborgol, ditahan saja tidak pantas. "Masak sih di negeri yang katanya menganut demokrasi, orang ditahan hanya karena menyatakan pendapat yang berbeda dari kehendak pemerintah?" tanyanya.

Salah satu deklarator KAMI ini menyebut, selain dari pendapat Syahganda cs yang berbeda dengan kehendak pemerintah, para aktivis yang ditahan itu adalah orang-orang baik.

"Saya sangat yakin kecintaan mereka pada bangsa dan negara ini sangat besar. Karena itulah mereka berani mengambil resiko meski harus berhadap-hadapan langsung dengan penguasa," ujarnya.

Ditambahkan Lieus, jika dengan memborgol itu polisi bermaksud ingin menciptakan efek jera dan membuat takut, itu jelas salah besar. "Bagi para aktivis yang mencintai negeri ini, kata takut sudah tidak ada dalam kamus mereka," ucap dia.

Karenanya, Lieus meminta polisi menghentikan semua tindakan represif terhadap pihak-pihak yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah. "Polisi berhentilah menjadi alat kekuasaan. Jadilah aparat keamanan yang mengayomi seluruh warga negara dengan adil," tutup dia.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA