Korporasi Petani

Yuk Ubah Mindset! Petani Harus Untung

IN
Oleh inilahcom
Minggu 18 Oktober 2020
share
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi (ke-2 kiri) bersama Kadistan Jabar, Dadan Hidayat dan Kadistan Ciamis, S Budi Wibowo serta Kapusluh Leli Nuryati - (Foto: Pusluhtan BPPSDMP)

INILAHCOM, Ciamis - Bertani bukan keterpaksaan. Usaha tani bukan kewajiban. Pertanian adalah keniscayaan. Semua negara maju berbasis pertanian, lihat Amerika Serikat (AS). Lahan jagung dan kentangnya puluhan juta hektare. Pangan pokok rakyatnya cukup, semua hal bisa diraih.

"Semua negara maju bertumpu pada pertanian. Lihat Amerika, Rusia dan China. Mereka pastikan dulu pangan rakyat terpenuhi, untuk meraih capaian suksesnya ," kata Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi saat kunjungan kerja di Kabupaten Ciamis, Jabar pada Sabtu (17/10/2020).

Dedi Nursyamsi selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian (BPPSDMP) menyebut sukses Israel, kini ijo royo-royo setelah memanfaatkan arang batok kelapa menjadi filter penjernih air. Fungsi lain, menyimpan air di dalam tanah. Padang pasir berhasil 'disulap' menjadi lahan pertanian.

"Lihat di sini. Batok kelapa dibiarkan berserakan. Israel tidak punya pohon kelapa seperti Indonesia. Harus impor. Peluang emas bagi petani mengolahnya jadi komoditas ekspor," kata Dedi Nursyamsi didampingi Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan BPPSDMP) Leli Nuryati.

Di hadapan sejumlah penyuluh dan petani di Kecamatan Pamarican, Ciamis, yang berhimpun di bawah koordinasi dan binaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pamarican, Dedi Nursyamsi mendorong petani mengubah semangat dan etos kerja, dari sekadar bertani menjadi pengusaha.

Tampak hadir di BPP Pamarican, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Dadan Hidayat dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, S Budi Wibowo.

"Petani harus untung. Jangan biarkan pedagang dan middle men yang untung," katanya di BPP Pamarican yang didukung digitalisasi pertanian selaku Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KostraTani).

Dedi Nursyamsi pun menceritakan pengalaman bersua petani Taiwan di negeri asalnya. Omzetnya Rp200 juta sebulan. Sinar matahari cuma beberapa jam saja, karena Taiwan berada di kawasan iklim subtropis, namun semangat dan etos kerja yang membuat mereka mengatasi kendala iklim dan cuaca menjadi pemicu semangat untuk maju.

Setelah menyebut luas lahan koleganya di Taiwan sekitar tujuh hektare, sontak petani dan penyuluh bergumam. Dedi Nursyamsi tidak menampik fakta keterbatasan lahan petani Ciamis seperti umumnya di wilayah lain Indonesia rata-rata adalah 0,3 hektare.

"Bukan itu kendalanya," katanya tegas, "masalah utama petani kita adalah sekadar bertani dan bekerja. Tanpa orientasi laba. Akibatnya, anak petani enggan turun ke sawah, karena melihat bapaknya sudah bekerja keras di sawah berbulan-bulan, tapi hanya cukup untuk makan."

Dia pun mengutip arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo seperti diinstruksikan Presiden Joko Widodo bahwa pertanian Indonesia ke depan harus berbasis korporasi selaku korporasi petani yang dikelola dengan manajemen profesional.

"Petani tidak lagi sendiri-sendiri. Korporasi petani yang akan menjaga setiap anggota mendapat laba yang sama. Bilamana merugi, risikonya dibagi ke seluruh pemegang saham, sehingga kerugian tidak terasa," katanya seperti dilansir dari keterangan tertulis Pusluhtan BPPSDMP.

Dedi Nursyamsi mengajak petani Ciamis dan di seluruh Indonesia jangan lagi menjual hasil panen dalam bentuk mentah. Proses dan olah dahulu menjadi produk olahan bernilai tambah, sehingga hasilnya menguntungkan petani setelah dilepas ke pasaran.

"Bayangkan, petani jual gabah, harganya Rp4.000 sekilo. Harus tunggu tiga sampai empat bulan untuk panen. Selama itu pula seluruh risiko kebanjiran, kekeringan, hama penyakit ditanggung petani sendirian," katanya.

Setelah petani membentuk korporasi, maka saham yang dikumpulkan dapat digunakan membeli rice milling unit (RMU) dan mesin pengering (dryer). Hasil panen diolah dulu di RMU dan dryer kemudian dikemas menjadi beras premium seharga Rp15.000, berarti petani meraih laba empat kali lipat dari sekadar menjual gabah.

"Faktanya saat ini, petani masih jual gabah. Pedagang raih untung berlipat ganda dalam hitungan hari. Tanpa risiko kerugian berbulan-bulan seperti ditanggung petani. Penyuluh harus mampu mengubah mindset petani." kata Dedi mengakhiri arahannya di BPP Pamarican, Ciamis. []

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA