Aksi Boikot Produk Perancis, Awas Jadi Alat Bentur

IN
Oleh inilahcom
Jumat 30 Oktober 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Gelombang ajakan boikot produk Perancis, terus berkembang seantero negeri. Namun hati-hati, jangan sampai dimanfaatkan penumpang gelap.

Direktur Jaringan Moderasi Indonesia, Islah Bahrawi mengingatkan, dalam isu ini umat Islam jangan sampai latah bereaksi dan dijadikan alat bentur pertempuran orang lain.

"Reaksi umat Islam seringkali terjadi karena latah. Ketika sebuah isu meletup dan bergesekan dengan agama, semua orang kadang segera menutup mata - tanpa pernah menganalisa kejadian sebenarnya. Inilah mengapa militansi umat Islam seringkali dijadikan alat bentur untuk pertempuran orang lain," kata Islah kepada wartawan, Kamis (29/10/2020).

Hampir di semua negara Muslim, menunjukkan reaksi kemarahan atas ucapan Presiden Perancis Emmanuel Macron, karena dirasa menyudutkan Islam. Saudi, Qatar dan Turki marah besar. Iran sebagai negara yang punya hubungan bilateral yang erat dengan Perancis menunjukkan sikap kecewanya.

Islah mengajak umat Muslim di Tanah Air, menyikapi perkara ini dengan introspeksi. Menurutnya, harus disadari, banyak orang yang mengaku sebagai umat Islam namun masih intoleran, gemar mengumbar kebencian dan melakukan aksi kekerasan kepada orang lain karena perbedaan keyakinan. Sikap yang seringkali mengundang stigma negatif tentang Islam. "Bahkan akibat dari semua ini, banyak dari kalangan Muslim sendiri yang semakin lama semakin menjauh dari Islam untuk lebih memilih menjadi agnostik, atau bahkan ateis. Terutama dari segmen masyarakat yang mengalami skeptis teologis," ujar Islah.

Majelis Ulama Indonesia menyatakan kecewa dengan pernyataan Macron. Namun, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi meminta masyarakat tidak terprovokasi dan tetap menjaga kedamaian di Tanah Air menyikapi ajakan memboikot produk Perancis.

Muhyiddin meyakini pemerintah akan mengambil langkah-langkah bijak merespons isu ini. Dia juga meminta Kementerian Luar Negeri meminta penjelasan dari Duta Besar Perancis di Indonesia. "Kepada masyarakat umat Islam dan bangsa Indonesia yang ingin menyampaikan aspirasi penolakan silakan, tapi dengan tertib, tidak boleh merusak dan harus mengikuti aturan main," kata Muhyiddin.

Informasi saja, produk buatan Perancis yang hadir di indonesia, cukup beragam. Misalnya, produk kosmetik dan perawatan kulit yang diproduksi L'Oreal. Adapula produk fesyen papan atas yang kerap dijumpai di pusat perbelanjaan Indonesia, seperti Louis Vuitton, Chanel, Hermes, Mont Blanc dan lainnya. Di sektor otomotif, ada Renault dan Peugeot.

Sedangkan sektor energi, raksasa migas asal Prancis yakni TOTAL sudah lama berbisnis energi dan bahan bakar minyak (BBM) di Tanah Air.
Di Indonesia, grup TOTAL diwakili oleh afiliasi di sektor hulu dan hilir, di sektor eksplorasi dan produksi (hulu), TOTAL E&P Indonsie (TEPI) telah telah hadir di Indonesia sejak 1968.

Di sektor hilir TOTAL di Indonesia diwakili oleh PT TOTAL Oil Indonesia yang beroperasi sejak tahun 2003 diawali dengan bisnis pelumas dengan pendistribusian berbagai produk secara nasional dengan merek TOTAL dan ELF.

Selain itu, TOTAL memulai pasar bahan bakar ritel (SPBU) pada tahun 2009 dan hingga saat ini TOTAL mengoperasikan 18 SPBU yang tersebar di berbagai lokasi strategis di kawasan urban Jabodetabek serta Bandung.

Masih adalagi Danone SA, industri konsumer dunia asal Perancis yang ternyata punya andil besar di PT Tirta Investama, produsen air minum mineral merek Aqua.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA