Terkuak Uang Rp 1,4 Miliar Mengalir ke Wanita ini

IN
Oleh inilahcom
Minggu 01 November 2020
share
 

INILAHCOM, Malang - Hujan deras mengguyur Mako Kepolisian Resor Malang, Sabtu (31/10/2020) siang. Dengan tangan diborgol, MY duduk termenung di sudut lobi Polres Malang yang ada di Jalan Ahmad Yani, Kota Kepanjen.

Perempuan 29 tahun itu memegang kacamata. Lalu berkata. "Ini mau apa," tanya MY sembari menatap meja yang berisi sejumlah barang bukti.

Beberapa jurnalis pun menuturkan. MY akan menjalani rilis kasus penipuan yang ia lakukan. "Lama apa gak seperti ini," tanya MY lagi.

Ibu dua orang anak ini lalu bercerita. Ia asli Palembang. Masuk Malang pada tahun 2012 lalu. "Saya tinggal di kontrakan. Suami saya bekerja juga. Tahu kalau saya sudah ditahan disini. Tapi mau jenguk saya belum bisa katanya," ujar MY.

Ditengah hujan lebat, mata Meta mulai berkaca-kaca saat menceritakan buah hatinya. "Anak saya dua. Satu umur lima tahun, satu lagi mau jalan dua tahun," katanya.

Kedua anak MY kini sudah dibawa ke Palembang oleh adiknya. "Yang kecil masih saya susui. Saya kangen sekali. Berapa lama saya disini, saya capek. Gak betah karena tiap hari suruh menyanyi," papar MY sambil menahan isak tangis.

Selama dalam tahanan, MY bercerita sering diminta menyanyi oleh tahanan lainnya. "Capek suruh nyanyi terus, kadang sampek jam 12 baru berhenti, nyanyi," ucapnya.

Di dalam sel tahanan Polres Malang, Meta tidak sendiri. Ada tahanan wanita lain yang terjerat kasus narkoba. Sebelum ditetapkan jadi tersangka kasus penipuan dan penggelapan, MY juga mengaku pernah bekerja sebagai marketing frelance Bank BRI di Kota Malang. Saat itu, kisaran tahun 2017.

"Saya marketing frelance tidak lama, Cuma 6 bulan. Sebelum itu saya jualan pempek Palembang. Setelah frelance marketing, saya keluar karena melahirkan anak kedua," terangnya.

Awal mula melakukan penipuan, MY berdalih tidak pernah ia rencanakan. Melalui beberapa teman, MY kemudian banyak menerima titipan uang untuk disetorkan ke Bank BRI. Lambat laun, apa yang dilakukan Meta ternyata banyak mendapat kepercayaan banyak orang. Meta pun mulai beraksi. Salah satunya, mencetak sendiri program-program mengatasnamakan Bank BRI.

Tiga modus yang dilakukan MY adalah, membuat program rekayasa. Program pertama soal deposito dan investasi. Program kedua Simpanan Pelajar (SIMPEL). Program ketiga yakni tabungan haji.

Seluruh program ini hanya tipu daya MY saja. Untuk menyakinkan korbannya, MY membuat dan mencetak brosur ketiga program itu sendiri. Printer dan laptop yang dipakai MY membuat brosur program mengatasnamakan BRI, ikut disita Polisi. Jadi barang bukti. Termasuk paspor haji palsu.

Meta mengaku, aktifitas menipu sebagai pegawai Bank BRI, ia lakukan sejak akhir tahun 2019 lalu. "Mulai September 2019 lalu. Khusus merchandise yang ada logo BRI saya buat sendiri. Saya pesan dan cetak sendiri, seperti payung dan mug (gelas) itu," beber MY sambil menunjuk sejumlah merchandise berlogo Bank plat merah tersebut.

Uang yang ia dapat dari korban, lanjut MY, ia putar sedemikian rupa. Seluruh uang tersebut ia simpan sendiri. Beberapa korban juga ia transfer dengan dalih bunga deposito. Satu korban, MY mengaku bisa setor uang mulai Rp 10 juta hingga Rp 100 juta.

"Yang seratus Rp 100 juta uangnya sudah saya kembalikan. Kalau sekarang uang yang ada disaya tinggal Rp 10 juta saja," tegasnya.

Sepak terjang MY pun berakhir setelah salah satu korban yang titip uang, mengajak bertemu di salah satu dealer mobil. "Kita janjian bertemu di mitshubisi. Uangnya sudah saya kembalikan. Lalu saya ditangkap," pungkasnya.

Polisi mencatat, ada 51 orang korban yang tergiur program deposito faedah hasil rekayasa MY. Program tabungan haji 4 orang korban. Sementara 14 orang korban tergiur program SIMPEL.

Atas perbuatannya, Polisi menjerat MY dengan Pasal 372 dan Pasal 378 tentang tindak pidana penipuan dan penggelapan. Ancaman hukumannya, 4 tahun penjara. [beritajatim]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA