Usai Deflasi 3 Bulan, Muncul Inflasi Tipis Oktober

IN
Oleh inilahcom
Senin 02 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Setelah deflasi berturut-turut di Juli hingga September, muncullah inflasi tipis-tipis 0,07% di bulan Oktober 2020. Pemantiknya, harga pangan naik di sejumlah daerah.

Dalam video conference, Senin (2/11/2020), Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, inflasi Oktober sebesar 0,07% disumbang kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

Dijelaskan, kenaikan harga pangan terjadi di 66 daerah yang disurvei. Sedangkan deflasi masih terjadi di 24 kota. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,04%, sedangkan inflasi terendah di Jakarta, Cirebon, Bekasi, dan Jember sebesar 0,01%.

Untuk deflasi, yang tertinggi terjadi di Monokwari sebesar 1,81%, terendah di Surabaya sebesar 0,02%. "Sesudah tiga bulan berturut-turut mengalami deflasi, kita mengalami inflasi tipis pada Oktober 0,07%. Dengan demikian, inflasi sepanjang tahun ini atau year to date mencapai 0,95% dan inflasi tahunan sebesar 1,44%," ujar Suhariyanto.

Berdasarkan kelompok pengeluarannya, sebanyak enam kelompok mengalami inflasi sedanglam lima kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok makanan dan minuman sebesar 0,29%, disusul oleh kelompok penyediaan makanan dan restoran sebesar 0,19% dan kesehatan 0,15%.

"Sementara deflasi terjadi pada kelompok pertmahan dan perlengkapan rumah tangga, transportasi, informasi dan komunikasi, serta perawatan pribadi," ujar Suhariyanto.

Suhariyanto menjelaskan, komoditas yang memberikan andil besar inflasi pada kelompok makanan dan minuman adalah cabai merah yang memberikan andil inflasi 0,09%, bawang merah 0,02%, dan minyak goreng 0,09%. Sementara beberapa komoditas lain seperti daging ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,02% dan beberapa jenis buah sebesar 0,01%.

"Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar mengalami deflasi 0,04% karena ada penurunan tarif listrik. Sedangkan transportasi deflasi 0,14% terutama karena penurunan tarif angkutan udara sebesar 0,02%," katanya.

Pada kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran, menurut Suhariyanto, terjadi inflasi sebesar 0,19% karena harga nasi dan lauk pauk memberikan andil inflasi 0,01%. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,11% karena penurunan harga emas perhiasan.

Adapun berdasarkan komponennya, menurut Suhariyanto, inflasi harga bergejolak yang paling besar 0,4% sementara inflasi inti hanya 0,04% dan harga diatur epemrintah deflasi 0,15%.

Realisasi inflasi ini tak beda jauh dengan proyeksi Bank Indonesia (BI), dan sejumlah ekonom. Berdasarkan survei pengamatan harga pangan hingga pekan keempat, BI memproyeksi terjadi inflasi sebesar 0,08%. [ipe]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA