Tebak Pertumbuhan Kuartal III,Diramal Makin Jeblok

IN
Oleh inilahcom
Rabu 04 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meyakini, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 anjlok hingga minus 3%. Namun, ekonom memprediksi angkanya lebih jeblok lagi.

Menurut ekonom PEPS, Dr Anthony Budiawan, pertumbuhan ekonomi kuartal III bisa lebih buruk ketimbang kuartal II-2020 yang terpuruk hingga minus 5,32%.

Alasan Anthony, setoran pajak pada kuartal III turun tajam ketimbang kuartal II. "Penerimaan pajak dalam negeri pada kuartal III turun 24,5 persen terhadap kuartal II. Turunnya dari Rp290,1 triliun (kuartal II), menjadi
Rp218,9 triliun (kuartal III)," kata Anthony, Jakarta, Selasa (3/11/2020).

Dari data tersebut, Anthony yakin, aktivitas ekonomi ikut melemah sepanjang kuartal III. Di mana, Pajak Penghasilan karyawan turun 24%. Maknanya, jumlah PHK atau karyawan yang dirumahkan cukup signifikan di kuartal III.

Tak berhenti di situ, Anthony menjelaskan, Pajak Penghasilan Badan juga terjun bebas hingga 62%. "Ini Menandakan banyak perusahaan sedang mengalami masalah besar. Laba anjlok bahkan merugi," ujar Direktur Political Economy dan Policy Studies (PEPS) itu.

Secara tahunan atau year on year (yoy), penerimaan pajak bakal turun tajam. Penerimaan Pajak Penghasilan karyawan turun 9,5%; Pajak Penghasilan Badan anjlok 51,4%. "PPN dalam negeri dan PPN impor secara year on year masing-masing turun 11,5 persen dan 26,2 persen," imbuhnya.

Padahal menurut Anthony, PSBB pada kuartal III jauh lebih longgar dibandingkan kuartal II-2020. "Kekhawatiran pandemi tidak nampak. Aktivitas masyarakat sangat bebas. Namun, penerimaan pajak toh turun tajam," kata Anthoni.

Yang lebih mengkhawatirkan, katanya lagi, pajak penghasilan non-migas anjlok hingga 39,4%. Dari Rp174,7 triliun (kuartal III) menjadi hanya Rp106 triliun (kuartal II). "Secara keseluruhan total penerimaan perpajakan, yaitu pajak dalam negeri ditambah bea dan cukai, turun 22,5 persen pada KIII/2020 terhadap KII/2020. Turun dari Rp 345 triliun pada KII/2020) menjadi Rp 267,5 triliun pada KIII/2020). Ini artinya, rasio penerimaan perpajakan terhadap PDB pada KIII/2020 diperkirakan sangat rendah, yakni bisa di bawah 7 persen," tegasnya.

Di lain sisi, lanjut Anthony, beban bunga pinjaman semakin bertambah dan membebani anggaran. Rasio beban bunga pinjaman terhadap penerimaan perpajakan pada KIII/2020 sangat tinggi, yakni mencapai 29 persen. Meskipun beban bunga pinjaman untuk defisit tahun ini sebagian besar sudah ditanggung Bank Indonesia, melalui skema pembiayaan burden sharing, yakni defisit anggaran tertentu dibiayai melalui cetak uang, dengan menggunakan dasar hukum Perppu No.1/2020 yang kemudian disahkan menjadi UU No.2/2020.

"Artinya aktivitas ekonomi pada KIII/2020 bisa jauh lebih buruk dari aktivitas ekonomi pada KII/2020, dibandingkan periode sama tahun lalu. Ekonomi KII/2020 mengalami kontraksi minus 5,32 persen dibandingkan KII/2019. Semoga ekonomi KIII/2020 tidak mengalami kontraksi lebih buruk dari minus 5,32 persen," pungkas Anthony.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA