Pengamat Kritik Erizal : Kamu Peneliti Atau Apa ?

IN
Oleh inilahcom
Rabu 04 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pengamat politik Universitas Andalas Arifki Chaniago mempertanyakan keraguan peneliti ABC Riset & Consulting (Arah Baru Center), Erizal yang mempertanyakan elektabilitas Paslon Cagub Sumatera Barat (Sumbar) Mulyadi-Ali Mukhni yang unggul berdasarkan survei Poltracking pada Pilkada Sumbar 2020.

Arifki mengatakan, pandangan Efrizal terhadap hasil survei tersebut tidak lagi objektif lantaran posisinya sebagai peneliti sekaligus politisi. Terlebih ia terlibat langsung dengan salah satu partai politik yang mendukung Nasrul Abit-Indra Catri.

"Erizal merupakan politisi, lebih tepatnya seorang sekretaris partai politik, sangat tidak layak disebut sebagai seorang peneliti. Dipastikan jika ia seorang politisi, maka jelas penelitian nya menjadi tidak netral," kata Arifki Chaniago dalam keteranganya, Rabu (4/11/2020).


Arifki menekankan, keraguan Efrizal terhadap survei Poltracking itu tanpa melalui kajian ilmiah sebagai pembanding.

"Pertama, Erizal meragukan 3,7 persen masyarakat Sumbar yang belum mempunyai pilihan. Padahal kita semua mengetahui jika kampanye tinggal 1 bulan lagi. Semua Paslon dan timnya dipastikan sudah bergerak ke seluruh pelosok daerah mengenai terkait Pilkada 2020 ini," katanya.

Kedua, Erizal meragukan elektabilitas Mulyadi-Ali Mukhni dan hanya memperkirakan dikisaran 30 persen. Sekali lagi, Erizal hanya menduga-duga saja, tanpa ada riset ilmiah untuk dikaji oleh Erizal sendiri.

Ketiga, mengenai popularitas Nasrul Abit yang tinggi dan tidak sebanding dengan Elektabilitasnya yang rendah. Masyarakat lebih tahu dan merasakan apa yang telah dilakukan oleh Nasrul Abit sejauh ini selama menjadi Wagub Sumbar.

"Jadi wajar masyarakat tidak mau lagi menjadikan Nasrul Abit sebagai pemimpin mereka," ungkap Arifki
Langkah Erizal mempertanyakan hasil lembaga survei lembaga lain tak elok dalam politik. Melihat posisinya sebagai politisi seharusnya fokus saja agar kandidat yang diusung oleh partainya menang.

Sebelumnya, Efrizal mengutarakan keraguan hasil survei itu. Pertama, berdasarkan hasil survei Poltracking itu, 3,7 persen masyarakat Sumbar yang belum punya pilihan.

Menurutnya, angka itu terlalu kecil karena masih banyak masyarakat yang belum menentukan pilihan. Meski tidak bisa memastikan jumlah angkanya, ia menilai bahwa angka masyarakat yang belum menentukan pilihan lebih dari 3,7 persen.
Kedua, Erizal ialah mustahil elektabilitas Mulyadi-Ali Mukhni 49,5 persen. Ia membandingkan angka elektabilitas itu dengan angka kemenangan Gamawan Fauzi pada Pilkada Sumbar 2005.

Ia melihat di lapangan bahwa Pilkada Sumbar sangat dinamis. Dengan kata lain, elektabilitas Mulyadi-Ali Mukhni, Nasrul Abit-Indra Catri, dan Mahyeldi-Audy tidak berbeda jauh. Ketiga, tingkat popularitas Nasrul Abit yang terlalu jauh dengan elektabilitasnya. Berdasarkan hasil survei Poltracking, popularitas Nasrul Abit 85,5 persen, Mulyadi 82,5 persen, Mahyeldi 81,3 persen, dan Fakhrizal 53,4 persen.

Poltracking sebelumnya merilis, elektabilitas Mulyadi-Ali Mukhni 49,5 persen, Nasrul Abit-Indra Catri 21,3 persen, Mahyeldi-Audy 17,1 persen, dan Fakhrizal-Genius Umar 6,2 persen.

Lembaga tersebut menggelar survei pada 1923 Oktober 2020. Metodenya stratified multistage random sampling. Jumlah sampelnya 1.200 responden. Margin of error survei ini kurang lebih 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA