Emas Hitam Meredup, 100Ribu Pekerja Bakal Kena PHK

IN
Oleh inilahcom
Rabu 04 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pelan tapi pasti, permintaan dunia akan batubara dari Indonesia turun. Mereka mulai melirik energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber energi untuk pembangkit setrum.

Manager Program Transformasi Energi IESR, Jannata Giwangkara memproyeksikan, permintaan batubara Indonesia akan terus menyusut di masa depan. Penyebabnya, ya itu tadi, berbagai negara mulai beralih ke EBT sebagai penghasil listrik. "Proyeksi permintaan energi di Indonesia akan mengalami penurunan," kata Jannata dalam Peluncuran Laporan Seri Studi Peta Jalan Transisi Energi Indonesia, Jakarta, Rabu, (4/11/2020).

Dia menjelaskan, sebagai negara eksportir batubara, Indonesia akan kehilangan pasar lantaran negara tujuan ekspor mulai beralih ke energi selain fosil. Ini dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan sehingga mereka mulai beralih pada sumber energi yang rendah karbon. "Beberapa negara tujuan sudah mulai melakukan transisi ke EBT yang rendah karbon," kata dia.

Beberapa negara yang mulai melakukan transisi energi di antaranya, Jepang, Vietnam, Filipina dan Korea. Penurunan permintaan ekspor batubara ini juga akan berdampak bagi sejumlah wilayah di Indonesia yang hidup dari industri ini.

Setidaknya ada 5 kabupaten di 4 provinsi yang akan terganggu lantaran mengandalkan sektor batubara sebagai pendapatan daerah. Dari data tahun 2018, Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur, kontribusi batubara terhadap PDB sebesar 32 persen dan sebanyak 65 persen dari pertambangan dan penggalian. Adapun nilai kontribusi yang diberikan sebesar Rp160,59 miliar.

Masih di Kalimantan Timur, Kutai Timur menyumbang Rp123,5 miliar dari kontribusi pertambangan, penggalian dan batubara. Semntara di Paser, kontribusi pertambangan dan penggalian sebesar 75 persen dan batubara 70 persen dengan nilai Rp48,2 miliar. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA