Negeri Dikepung Utang, RR: Ganti Menteri Neolib

IN
Oleh inilahcom
Rabu 04 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Sejak awal, ekonom senior DR Rizal Ramli sudah mengingatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait semakin memburuknya perekonomian nasional. Pemicunya, tim ekonomi kurang oke.

Menanggapi pernyataan Jokowi tentang proyeksi ekonomi kuartal III-2020 bakal minus 3%. Angka ini membaik ketimbang kuartal II-2020 sebesar minus 5,32%. Kata RR, sapaan akrab Rizal Ramli, pernyataan Jokowi tidak mengejutkan.

Sejak awal, kata dia, tim ekonomi Jokowi tidak memiliki terobosan dalam membangkitkan perekonomian yang tengah terpuruk. "Tidak ada surprise sudah diperkirakan sejak awal tahun 2020 karena kebijakan ekonomi super-konservatif dan neoliberal yang sudah gagal. Pertanyaan yang lebih penting, apa yang akan dilakukan Jokowi, mengulangi cara yang sama yang telah berulang gagal? Atau ubah strategi dan pecat Menteri Neoliberal dan KKN?" ujar Rizal Ramli, di Jakarta, Selasa (3/11/2020).

Rizal menyatakan, perekonomian Indonesia masuk dalam resesi sejak kuartal II tahun 2020. Penilaian Menko Ekuin pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu didasarkan pada rumusan yang lazim di dunia internasional.

Menurutnya, hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 yang sebesar 2,97 persen sudah mengalami kontraksi dua persen dibandingkan dengan kuartal IV 2019 yang tumbuh 4,97 persen. "Kemudian pada kuartal II, pertumbuhan ekonomi lagi-lagi terkontraksi -5,32 persen atau minus 4,19 persen ketimbang kuartal I 2020. Kalau berdasarkan rumusan dunia internasional bila ekonomi terus merosot selama dua kuartal ya berarti resesi," tutur Rizal.

Terkait resesi, sambung Rizal Ramli, sebenarnya sejak tahun lalu sudah banyak indikator yang menunjukkan bahwa kondisi ekonomi di Indonesia melemah terlepas ada atau tidaknya pandemi COVID-19. "Sejak satu setengah tahun yang lalu, kami sudah ingatkan bahwa ada indikator-indikator yang menunjukkan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan baik secara makro eknomi dengan menggunakan indikator misalnya trade surplusnya makin mengecil," kata mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang dicopot oleh Jokowi itu.

Indikator lain yang menunjukkan ekonomi Indonesia melemah adalah transaksi berjalan defisitnya semakin lebar. Kemudian primary balance yang negatif, artinya untuk bayar bunga bank saja Indonesia harus utang. "Kalau primary balance-nya positif itu tidak, tapi kalau satu negara hanya untuk bayar utang juga mesti ngutang itu negatif primary balance-nya dan ini adalah faktor perlambatan ekonomi," ujar mantan Menko Ekuin era Presdien Gus Dur itu.

Dikatakan, tax ratio (penerimaan pajak dibanding PDB) sejak tahun lalu hanya 10 persen dan saat ini bahkan negatif. Ini menunjukkan otoritas fiskal tidak efektif. "Karena doyannya nguber (mengejar) yang kecil-kecil doang, sama yang gede-gede tidak berani justru dikasih tax holiday dan pembebasan pajak 20 tahun, dan sebagainya," tutur mantan Menko Kemaritiman di periode pertama Jokowi itu.

Jadi, menurut Rizal, strategi menteri keuangan terbalik karena hanya fokus mengejar pajak kalangan menengah ke bawah atau yang kecil. Alhasil, tidak aneh jika penerimaan pajak menjadi kecil karena tidak fokus dengan yang besar. "Sehingga sejak satu setangah tahun yang lalu, semua indikator makro Indonesia sudah merosot dan ekonomi akan melambat," jelasnya.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA