Kasus Duit Winda di Maybank Raib, Apa Kabar OJK?

IN
Oleh inilahcom
Kamis 12 November 2020
share
Winda dan ayahnya, Herman Lunardi

INILAHCOM, Jakarta - Industri keuangan dalam negeri dikejutkan dengan mencuatnya kasus tabungan hilang Rp22 miliar milik atlet e-Sport Winda Lunardi di Maybank. Belakangan terkuak banyak keganjilan.

Anggota Komisi XI DPR, Puteri Anetta Komarudin mempertanyakan kinerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas perbankan. Masalah ini cukup penting karena menyangkut nasib nasabah, selain juga kepercayaan publik terhadap perbankan di tanah air.

Politisi Golkar ini meminta agar OJK memeriksa seluruh sistem pengawasan internal di seluruh perbankan. Hal ini penting guna menghindari terulangnya masalah ini.

Selain itu, Puteri mengingatkan tanggung jawab OJK dalam menjamin perlindungan konsumen pada sektor jasa perbankan, sesuai UU OJK dan POJK Nomor 1 Tahun 2013. "Dalam hal ini, OJK berkewajiban untuk memfasilitasi proses mediasi antara konsumen dan pihak bank guna memperoleh kesepakatan penyelesaian. Pihak bank yang terbukti melanggar ketentuan ini pun dapat dikenakan sanksi administrasi sesuai ketentuan yang berlaku," tutur puteri poltisi senior Partai Golkar, Ade Komarudin ini.

Di balik kasus ini, ternyata ditemukan adanya tawaran tabungan berjangka dengan bungga tinggi. Belakangan, semuanya nol. Pada 2015, Herman Lunardi, ayah Winda yang juga bos PT Sinar Bakti Union, ditawari program tabungan berjangka oleh A, Kepala Maybank Cipulir berinisial A. yang kini berstatus tersangka oleh Bareskrim Polri. Dijanjikan ada imbal hasil yang cukup tinggi, yakni 10% dalam setahun.

Singkat cerita, sang ayah tergiur dengan program tabungan berjangka tersebut. Kemudian ayah Winda mentransfer uang Rp22 miliar melalui rekening Winda dan istrinya, Floretta. "Iming-imingnya itu sampai 10 persen (bunga, red), secara berjangka. Tinggi sekali kan," kata Karo Penmas Humas Polri Brigjen Awi Setyono di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (6/11/2020).

Belakangan, program tabungan berjangka tersebut, punya itikad buruk alias tipu-tipu dari A. Dalam sekejab, duit miliaran itu raib. "Tanpa seizin pemilik, pelaku mengambil dan menguras sampai habis dan diberikan ke temannya untuk diputar," jelasnya.

Lebih lanjut, Awi menjelaskan asal muasal pelaku bisa membobol data rekening pribadi korbannya. tersangka A mengetahui data korbannya karena menjadi salah satu pejabat bank tersebut. "Dia business manager kan, bahkan yang bersangkutan yang menawarkan korban untuk membuka rekening berjangka. Sementara rekening tersebut di bank itu sendiri gak ada. Jadi memalsukan data-datanya, sehingga dari situ uangnya ditarik yang bersangkutan," pungkasnya.

Kuasa hukum Maybank, Hotman Paris menyebut empat kejanggalan dalam kasus bobolnya rekening Rp20 miliar milik Winda dan ibunya Floreta.
Pertama, Winda teryata tidak memegang buku tabungan dan kartu ATM. Padahal, buku tabungan dan kartu ATM adalah alat bukti kepemilikan simpanan di Maybank Indonesia. Anehnya lagi, buku tabungan dan kartu ATM justru dipegang A, Kepala Cabang Maybank Indonesia Cipulir, Jakarta Selatan yang sudah berstatus tersangka. kasus tersebut.

Kedua, pembayaran bunga dari rekening pelaku (A), bukan dari rekening Maybank Indonesia. "Dan (transfer bunga) bukan ke rekening nasabah (Winda), tapi ke rekening Herman Lunardi. Pernah ada protes dari pemilik rekening? Kenapa bunga tabungan saya, dibayar rekening pribadi dari pimpinan cabang? Tidak ada protes," sebut Hotman.

Ketiga, rekening koran. Dalam pengakuan Winda sebagai korban, dirinya membuka rekening koran. Padahal kata Hotman, rekening koran (account statement) dan tabungan adalah dua hal yang berbeda. "Pertanyaan berikutnya adalah, kemarin itu kan si W mengaku menerima rekening koran. Apakah dia tahu bahwa tabungan itu tidak punya rekening koran? Berarti harusnya dia tahu bahwa kenapa saya terima rekening koran sedangkan yang saya buka adalah buku tabungan? Bahkan buku tabungannya masih dipegang oleh si A," jelas Hotman.

Keempat, aliran dana ke rekening ayah korban. Hotman menyoroti adanya aliran dana ke rekening Herman Lunardi yang merupakan ayah dari Winda. Dana yang masuk ke rekening Herman Lunardi sebelumnya mengalir ke Prudential. Hal itu terlihat dari mutasi rekening milik Winda yang kartu ATM dan buku tabungannya dipegang pelaku. Dana sebesar Rp6 miliar dari rekening Winda di Maybank Indonesia, masuk ke Prudential. "Tapi dalam hitungan berapa hari, kembali lagi uang ini. Berapa masuk ke rekening siapa (Herman Lunardi)?" kata Hotman. [ipe]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA