Resesi Ekonomi, Kuartal III Jababeka Boncos Rp171M

IN
Oleh inilahcom
Kamis 12 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang kuartal III-2020, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan rugi Rp171,1 miliar. Sangat buruk ketimbang kuartal III-2019 yang untung Rp63,5 miliar.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), alasan utama kerugian Jababeka adalah selisih nilai tukar (kurs). Di mana, kuartal III-2020, perseroan kembali membukukan rugi selisih kurs Rp255,4 miliar. Padahal pada kuartal III-2020, perseroan bisa mengeruk laba dari selisih kurs sebesar Rp102,4 miliar.

KIJA membukukan total penjualan dan pendapatan konsolidasi Rp1,8 triliun pada kuartal III-2020. Atau naik 29% dibandingkan periode sama di 2019. Peningkatan ini terutama didorong oleh peningkatan kontribusi penjualan dari Kendal.

Pendapatan dari pilar bisnis Land Development & Property naik 127% menjadi Rp997,5 miliar di kuartal III-2020 dari sebelumnya Rp438,5 miliar pada periode yang sama tahun 2019. Peningkatan pendapatan ini sebagian besar berasal dari kinerja yang kuat di Kendal. Di mana, penjualan lahan industri di Kendal melonjak menjadi Rp630,4 miliar selama sembilan bulan 2020 dibandingkan Rp7,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan Pilar Infrastruktur menurun 16 persen menjadi Rp767,3 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan Dry Port dan Bekasi Power, masing-masing sebesar 31% dan 18%. Selama kuartal III-2020 terjadi penurunan volume kontainer yang ditangani Dry Port akibat pandemi Covid-19 dan berkurangnya keseluruhan kegiatan ekonomi (terutama ekspor impor) serta pemberlakuan status Reserve Shutdown yang lebih lama kepada Bekasi Power oleh PLN. Di sisi lain, pendapatan dari jasa dan pemeliharaan meningkat 6 persen (year on year) secara gabungan dibandingkan tahun lalu.

Pilar Leisure & Hospitality mencatat sedikit peningkatan pendapatan menjadi Rp64,2 miliar selama tiga kuartal di tahun 2020 dibandingkan dengan Rp62,5 miliar selama periode yang sama tahun lalu. Di sisi positif, pendapatan villa dan pariwisata justru mengalami pertumbuhan sebesar 72 persen (year on year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan tumbuh 36 persen dari Rp6,9 miliar pada kuartal kedua 2020 menjadi Rp9,4 miliar pada kuartal III-2020.

Sementara itu, pendapatan berulang (recurring revenue) perseroan dari pilar Infrastruktur memberikan kontribusi sebesar 42 persen dari total pendapatan Perseroan selama kuartal III-2020, dibandingkan dengan 64 persen pada periode yang sama tahun 2019. Penurunan kontribusi ini diakibatkan peningkatan signifikan kontribusi pendapatan dari pilar Land Development & Property.

Sementara itu, EBITDA Perseroan di kuartal ketiga sebesar Rp609 miliar dibandingkan dengan Rp450 miliar di tahun sebelumnya. EBITDA dari pendapatan berulang (recurring revenue) Perseroan yang berasal dari segmen bisnis infrastruktur sebesar Rp289 miliar selama sembilan bulan 2020, atau meningkat 1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp285,1 miliar.

Dalam hal penjualan real estate secara marketing (marketing sales), Perseroan mencatat Rp557,4 miliar selama tiga kuartal tahun 2020. Penjualan dari produk industri (tanah matang atau tanah dan bangunan pabrik) berkontribusi sebesar 45 persen, sedangkan segmen perumahan/komersial dan lainnya berkontribusi 55 persen.

Dibandingkan dengan sembilan bulan tahun 2019, Perseroan mencatat sedikit lebih dari setengahnya pencapaian marketing sales tahun sebelumnya sebesar Rp1.084 miliar yang dikarenakan kinerja selama sembilan bulan tahun 2020 sangat dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang berdampak pada pasar properti. Namun demikian, penjualan pada kuartal III-2020 meningkat lebih dari dua kali lipat dari perolehan kuartal kedua 2020 sebesar Rp144,8 miliar menjadi Rp301,8 miliar di kuartal ketiga 2020.[ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA