Jangan Lupa Jasa Sawit untuk Surplus Neraca Dagang

IN
Oleh inilahcom
Rabu 18 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Suka atau tidak, surplusnya neraca perdagangan pada September 2020, senilai US$13,82 miliar tak bisa lepas dari jasa ekspor minyak sawit. Capaian ini melompat ketimbang September 2019.

Hal ini disampaikan Ketua bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Tofan Mahdi dalam sebuah webinar di Jakarta, Selasa (17/11/2020). "Meski dihantam pandemi COVID-19, industri sawit masih eksis. Konstribusinya cukup positif dalam mendorong surplus neraca perdagangan pada September 2020," ungkapnya.

Ya, Tofan benar. Pada September 2020, neraca perdagangan mengalami surplus US$13,82 miliar. Capaian ini melompat dari September 2019 yang defisit hingga US$2,24 miliar. Meski 2020 sudah ada pandemi COVID-19 di Indonesia .

"Kenapa defisit tahun lalu? Karena harga minyak sawit saat itu, masih rendah dan bagaimana perusahaan sawit sawit bisa bertahan pada saat itu. Dan pada tahun ini tidak lebih buruk dari tahun lalu, karena kontribusi harga sawit sangat baik makanya indonesia bisa catat surplus sebesar USD13,82 miliar," ungkap dia.

Menurut Tofan, hingga September 2020 nilai kontribusi devisa ekspor dari minyak sawit mencapai USD15 miliar. "Jadi kalau dilihat nilai ekspor sebesar USD 117 miliar maka ketika sawit berkontribusi sebesar USD115 miliar artinya hampir 10%-15% ekspor indonseia ditopang oleh minyak sawit," ungkap penulis Buku Pena di Atas Langit ini.

Berdasarkan data, harga minyak sawit pada kuartal III tahun 2020 berada pada level USD666 per ton. "Kalau saya lihat posisi harga CPO hari ini ada di angka USD855 per ton. Artinya meski banyak sektor ekonomi melemah di Indonesia tapi sektor sawit masih memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi indonesia," kata mantan redaktur senior Jawa Pos ini. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA