BNI-AM Prediksi Ekonomi Masuki Pemulihan Pada 2021

IN
Oleh inilahcom
Kamis 19 November 2020
share
 

Perekonomiandomestik dan globaldiprediksikan memasuki tahap pemulihan pada 2021. Meskipun melambat karena potensi gelombang kedua akibat pandemi COVID-19, banyak negara yang menunjukkan slowed reopening dan beberapa negara lain menempuh partial lockdown. Khusus Tiongkok yang berhasil menahan virus dan pulih menuju level pre-covid-19.

Faktor lain, terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS ke-46 turut memicu ekspektasi politik perdagangan yang lebih baik. Ini karena hubungan perdagangan internasional lebih dapat diprediksi memberikan benefit kepada Tiongkok dan negara dengan ketergantungan ekspor tinggi, seperti Korea dan Singapura.

Di samping itu, pemerintahan Biden masih mendukung kenaikan stimulus fiskal dan suku bunga rendah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonominya yang terpuruk akibat pandemi covid-19. Di sisi lain, kebijakannya berdampak positif bagi negara berkembang karena akan mendorong investor untuk memburu yield yang lebih tinggi.

Demikian sejumlah prediksi dalam presentasi yang disampaikan para pembicara di acara BNI-AM Market Outlook 2021 yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (17/11). Acara ini berlangsung hingga Kamis (19/11). Acara ini untuk memberikan apresiasi dan perkembangan pasar kepada para nasabah PT BNI Asset Management (BNI-AM).

Acara Market Outlook 2021 mengambil tema Resilience to Counter Economic Turbulence. Tema ini dipilih dengan pertimbangan bahwa prediksi ekonomi dan pasar modal pada 2021 akan lebih menantang dan bergejolak dibandingkan 2020. Karenanya, diperlukan informasi yang akurat dan komprehensif untuk menghadapinya.

IMF merevisi proyeksi ekonomi dunia menjadi -4,4% pada 2020 (sumber IMF). Pemulihan ekonomi diestimasi berlanjut di kuartal 4 tahun ini hingga 2021.
Kebijakan penerapan protokol covid-19 hingga risiko kesehatan tampaknya belum berakhir hingga masa pendistribusian vaksin dapat merata menjangkau segenap lapisan masyarakat. Hal ini mendorong revisi estimasi pertumbuhan ekonomi di 2021 dari proyeksi sebelumnya menjadi 5,2% (-0,2%).

Suku bunga diproyeksikan masih bertahan di level rendah, tapi stimulus masih dibutuhkan untuk mendorong pemulihan ekonomi menjadi latar belakang makro pada 2020-2021. Hal ini mendorong risiko beban utang dari negara di emerging market di masa mendatang.

"Tingkat pengangguran mengalami peningkatan pada 2020 dan akan berlanjut sampai 2021 bila risiko pandemi tidak segera berakhir. Ini menjadi risiko global suplai dalam jangka menengah," Putut Endro Andanawarih, Presiden Direktur BNI Asset Management dalam paparan yang disampaikan sebagai salah satu pembicara.

"Memasuki 2021, kami melihat kondisi dalam negeri akan sedikit mengalami inflasi yang sedikit lebih tinggi dibandingkan 2020. Ini seiring meningkatnya penyaluran stimulus pemerintah. Kebijakan suku bunga Bank Indonesia relatif bertahan di level 3,75%-4% seiring level inflasi yang mulai meningkat tapi masih ada potensi penurunan suku bunga sebesar 25-50 bps dari level saat ini," ucapnya.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi pada level 4%-5,1% (upside risk di 6%) pada 2021 didorong oleh pemulihan bertahap dari pembukaan ekonomi lagi, khususnya bila vaksin sudah dapat terdistribusi. Selain itu, diestimasi investasi dan ekspor meningkat, serta belanja dan program stimulus pemerintah masih cukup solid. Yield SUN 10 tahun diestimasi bergerak pada kisaran 6,27%-6,65% (risk 7,3%) ditopang likuiditas lokal dan kembali masuknya investor asing ke pasar obligasi di Indonesia.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA