Ada Sebagian Masyarakat Tolak Vaksin Covid-19

IN
Oleh inilahcom
Kamis 19 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Sebanyak 27 persen masyarakat masih ragu dengan rencana vaksinasi Covid-19 apabila disediakan pemerintah.

Hal ini diketahui, dari hasil survei terbaru Kementerian Kesehatan dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).
Bahkan ada delapan persen masyarakat Indonesia menolak, alasannya faktor keamanan, efektivitas, serta kehalalan vaksin. Sementara 65 persen bersedia menerima vaksin.


Survei ini dilakukan terhadap 115.000 responden di 34 provinsi pada 18-30 September 2020. Survei ini didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Unicef.

"Survei menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia telah mendengar tentang vaksin Covid-19 dan bersedia menerimanya," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi, dikutip dari Antara.

Meski demikian, tingkat penerimaan tersebut berbeda-beda di setiap provinsi, dilatarbelakangi status ekonomi, keyakinan agama, status pendidikan, serta wilayah.


Tingkat penerimaan vaksin paling tinggi ada di Papua Barat yakni sebanyak 69 persen responden, sedangkan yang paling rendah di Aceh sebanyak 46 persen.

Tingkat penerimaan vaksin di Pulau Jawa, sebagai wilayah paling padat dan paling terdampak Covid-19 di Indonesia, berkisar 65-67 persen. Apabila dikategorikan berdasarkan agama, tingkat penerimaan tertinggi berasal dari responden Katolik dan Kristen yakni 75 persen.

Sedangkan responden Muslim yang bersedia menerima vaksin hanya sekitar 63 persen, sebanyak 29 persen lainnya belum memutuskan menerima atau menolak vaksin.

"Responden [yang menolak] mengungkapkan kekhawatiran terhadap keamanan dan keefektifan vaksin, menyatakan ketidakpercayaan terhadap vaksin, dan mempersoalkan kehalalan vaksin," tulis laporan tersebut.

Terkait kekhawatiran ini, Oscar menuturkan pemerintah sedang memastikan aspek keamanan dan kehalalan vaksin. "Tim Gabungan dari berbagai kementerian dan lembaga telah dikirim ke negara produsen untuk memastikan aspek tersebut," kata Oscar.


Selanjutnya menurut survei, responden berharap pemimpin politik menjadi orang-orang pertama yang divaksinasi sebelum masyarakat. Survei juga menemukan banyak responden yang tidak percaya bahwa Covid-19 nyata dan mengancam kesehatan masyarakat.

"Beberapa responden menyatakan bahwa pandemi adalah produk propaganda, konspirasi, hoaks, dan/atau upaya sengaja untuk menebar ketakutan melalui media untuk dapat keuntungan," dikutip dari laporan tersebut.


Sebanyak 35 persen responden menyatakan bersedia membayar vaksin Covid-19, sedangkan sisanya menyatakan tidak mau dan masih ragu. Responden di Jakarta, sebagai menjadi pusat perekonomian di Indonesia, memiliki tingkat kemauan membayar paling tinggi dibandingkan dengan 33 provinsi lain.

Survei ini juga mencari tahu seberapa besar responden bersedia membayar untuk vaksin. Hasilnya, 31 persen bersedia membayar hingga Rp50 ribu, sebanyak 28 persen bersedia membayar hingga Rp100 ribu, dan hanya empat persen yang bersedia membayar hingga Rp500 ribu. [wll]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA