Kadin Dukung Fundamental Pertanian Dibenahi

IN
Oleh inilahcom
Kamis 19 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Pandemi COVID-19 tidak hanya bikin porak=poranda perekonomian nasional, namun meningkatkan potensi krisis pangan. Pemerintah dan pelaku usaha perlu lebih bersinergi.

Wakil Ketua Kadin bidang agribisnis, pangan dan kehutanan, Franky Oesman Widjaja bilang, Kadin sangat mendukung upaya pemerintah mengantisipasi ancaman krisis pangan, terutama di masa pandemi Covid-19.

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Kadin, menilai, pengesahan UU Cipta Kerja (Ciptaker) yang akan mendorong investasi dan inovasi di bidang pertanian yang berujung pada peningkatan ketahanan pangan nasional.

Namun, kata dia, UU Ciptaker perlu didukung dengan pembenahan sektor pertanian secara fundamental. Untuk membenahi sektor ini, kendala terbesar adalah belum lengkapnya ekosistem dari hulu hingga hilir. Sejauh ini, baru industri minyak sawit yang memiliki ekosistem lengkap dari hulu-hilir. "Komoditas lainnya, seperti perkebunan lainnya, peternakan dan perikanan masih belum lengkap," kata Franky dalam Jakarta Food Security Summit (JFSS) kelima di Jakarta, Rabu (18/11/2020).

Perhelatan JFSS-5 yang berlangsung pada 18-19 November 2020. Dalam JFSS kali ini, Kadin mengangkat tema "Pemulihan Ekonomi Nasional untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Gizi, serta Meningkatkan Kesejahteraan Petani, Peternak, Nelayan dan Industri Pengolahan."

Acara ini rutin digelar sejak 2010, dilanjutkan pada 2010, 2012, 2015 dan 2018. JFSS ini bertujuan untuk menggerakkan seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, peternak dan nelayan.

Franky menjelaskan, komoditas pangan juga menghadapi berbagai persoalan seperti lahan, benih, pupuk, irigasi, pembiayaan, pemasaran, serta sarana dan prasarana pertanian. Khusus di hortikultura ditambah fasilitas penyimpanan. Sektor peternakan juga menghadapi masalah bibit, lahan, pembiayaan, dan kelembagaan peternak.

Sementara sektor perikanan menghadapi kendala
cold storage, pembiayaan, logistik, serta sarana dan prasarana. Guna menyelesaikan berbagai persoalan ekosistem tersebut sistem
inclusive closed loop (rantai pasok terintegrasi) bisa menjadi solusi. Inclusive closed loop, kata Franky, merupakan sebuah skema kemitraan saling menguntungkan dari hulu-hilir, sehingga keberlanjutan produksi terjaga dan petani, peternak dan nelayan sejahtera.

Di mana, inclusive closed loop berhasil diterapkan di industri minyak sawit. Dampaknya sangat positif, yaitu industri minyak sawit memiliki daya saing tinggi, produktivitas tinggi dan petani lebih sejahtera. "Industri sawit memiliki kemitraan inclusive closed loop atau ekosistem yang lengkap, mencakup petani, koperasi sebagai wadah petani, perbankan dan
offtaker," ujarnya.

Ketua Komite Tetap Hortikultura Kadin, Karen Tambayong menambahkan, agar Indonesia bisa mencapai ketahanan pangan, maka harus ada upaya penyediaan lahan dan infrastruktur serta peningkatan daya saing. Untuk lahan dan infrastruktur sejumlah hal yang harus tersedia antara lain penyediaan landbank yang mencakup status kepemilikan lahan dan koordinat lokasi, jenis tanah, atau data iklim. Setelah landbank tersedia, maka perlu ada percepatan one map policy yang mempermudah penyusunan pemanfaatan ruang, menyatukan semua peta yang diproduksi dan mengatasi konflik lahan. "Untuk infrastruktur penyediaan air melalui embung, irigasi juga penting, termasuk jalan usaha tani yang menghubungkan produksi dan pasar," kata dia.

Karen mengatakan, peningkatan daya saing juga sangat dibutuhkan agar bisa mencapai ketahanan pangan. Untuk itu diperlukan pangkalan data yang real time dengan memanfaatkan penyuluh, petani mileneal dan pemerintah. Peningkatan daya saing juga bisa dicapai dengan pusat layanan teknologi pertanian. Dengan adanya pusat teknologi ini diharapkan petani bisa mendapatkan benih unggul, teknologi pupuk dan pasca panen.

Dikatakan, inisiatif kolaborasi saling menguntungkan di hulu sampai ke hilir melalui inclusive cloosed loop layak dikembangkan. Model ini bisa menjadi jembatan untuk petani dengan pasar, sehingga hasil penen tersalurkan, pasokan lebih maksimal dan harga produk menjadi stabil. "Model closed loop bisa direplika untuk berbagai komoditas," kata dia.

Kuncinya, kata Karen, sinergi antara semua pelaku ekonomi di sektor pangan, mulai swasta, BUMN, perbankan, petani, dan akademisi itu penting. Di mana, Kadin telah melakukan pilot project inclusive closed loop dengan petani cabai di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dalam pilot project ini, terdapat 16 pihak yang terlibat, yaitu Kemenko Perekonomian, Kadin, IPB, Kementerian Pertanian, Koperasi, PT KAI, Pupuk Kujang, East West, Bayer, Paskomnas, Indofood, 8 Villages, Petani Melinial Eptilu, BRI, Merci Corps dan Unpad.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, peningkatan produktivitas hanya bisa dicapai melalui peningkatan teknologi, seperti mekanisasi pertanian. Dia mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo telah meminta Kementerian Pertanian agar ke depan memfokuskan kepada penggunaan teknologi pertanian sebagai strategi untuk mencapai ketahanan pangan. "Tahun 2021, kami akan lebih fokus pada pendekatan mekanisasi," kata dia.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono menyatakan sangat mendukung upaya pencapaian ketahanan pangan nasional, melalui pembangunan irigasi dan bendungan di berbagai daerah.

"Air berperan 18 persen dalam produksi padi, tetapi jika tidak ada air maka akan puso. Dan air rentan terhadap dinamika iklim. Maka, kami membangun jaringan irigasi dan bendungan. Bendungan ini agar irigasi bisa mendapatkan aliran air yang tepat waktu saat musim tanam, serta kuantitasnya bisa diatur," ujar Basuki. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA