BI Suntik Perbankan Rp680,89 T, Krismon Mendekat?

IN
Oleh inilahcom
Kamis 19 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Hingga 17 November 2020, Bank Indonesia (BI) sudah menginjeksi likuiditas perbankan Rp680,89 triliun. Likuiditas perbankan kering pertanda krisis moneter (krismon) semakin dekat?

Kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, suntikan untuk perbankan itu merupakan upaya mempercepat pemulihan ekonomi nasional dari dampak pandemi COVID-19. "Stan kebijakan moneter adalah longgar tidak hanya pada suku bunga yang kami turunkan menjadi 3,75 persen tapi juga pelonggaran likuiditas," kata Perry usai Rapat Dewan Gubernur BI November 2020 di Jakarta, Kamis (19/11/2020).

Perry menjelaskan, pelonggaran likuiditas di perbankan dilakukan melalui kebijakan penurunan giro wajib minimum (GWM) sebesar Rp155 triliun dan ekspansi moneter sebesar Rp510,09 triliun.

Menurut dia, longgarnya kondisi likuiditas mendorong tingginya rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK yakni 30,65 persen pada Oktober 2020 dan rendahnya rata-rata suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) Overnight sekitar 3,29 persen pada Oktober 2020.

Meski kondisi likuiditas perbankan melimpah, namun Perry mengakui fungsi intermediasi sektor keuangan masih lemah karena permintaan domestik yang masih belum kuat dan perbankan yang menerapkan kehati-hatian akibat pandemi COVID-19.

Fungsi intermediasi yang masih lemah itu tercermin dari pertumbuhan kredit pada triwlan III-2020 yang tercatat 0,12 persen secara tahunan (yoy), sedangkan kontras dengan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun bank mencapai 12,88 persen secara tahunan.

Menurut dia, perkembangan terkini menunjukkan pertumbuhan kredit mengalami kontraksi 0,47 persen secara tahunan pada Oktober 2020, sedangkan DPK tumbuh 12,12 persen (yoy).

Meski demikian, ia meyakini intermediasi perbankan diperkirakan mulai membaik pada masa mendatang sejalan dengan prospek pemulihan ekonomi nasional salah satunya indikator kinerja korporasi yang membaik.

Membaiknya kinerja korporasi, lanjut dia, ditunjukkan dengan peningkatan indikator penjualan dan kemampuan bayar mayoritas dunia usaha pada triwulan III-2020 dan diperkirakan berlanjut, didorong perbaikan ekonomi domestik dan global.

"BI akan melanjutkan kebijakan makroprudensial akomodatif, dengan senantiasa memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas keuangan lainnya, untuk mendorong pemulihan kinerja intermediasi perbankan," katanya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA