Meski COVID-19, Bisnis Jalan Tol Tetap Saja Moncer

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 21 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Meski sempat terjadi penurunan traffic kendaraan selama pandemi COVID-19, namun bisnis jalan tol berkilau. Termasuk bagi intustri penyedia sarana serta sistem transaksi di pintu tol.

Demikian kesimpulan dari diskusi virtual bertajuk Bisnis Sistem Transportasi di Tengah Pandemi di Jakarta, Sabtu (21/11/2020). Bertindak sebagai narasumber, Tri Bayu Wicaksono, Dirut PT Delameta Bilano; Danang Parikesit, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Mahbulloh Nurdin, Plt anggota BPJT unsur Kementerian PUPR yang dipandu wartawan senior, Edo Rusyanto sebagai moderator.

Menurut Tri Bayu Wicaksono, omzet Delameta selaku pabrikan alat dan sistem transaksi di jalan tol, sepanjang pandemi COVID-19 nyaris tak terdampak. Tiap tahun, pendapatan perusahaan mencapat Rp4 triliun. Di luar potensi bisnis lain semisal pergantian alat (replacement) senilai Rp2 triliun. Selain itu, bisnis perusahaan tumbuh 20% "jadi, nyaris tidak ada dampaknya. Kalau pun ada sifatnya sementara, enggak lama pulih lagi," terangnya.

Sebagai perusahaan teknologi sistem transportasi yang berbasiskan riset, kata dia, PT Delameta Bilano, sangat optimis dengan bisnis di sektor jalan tol. Saat ini, belum banyak pemain yang menggarap bisnis sistem teknologi jalan tol. Faktor lainnya, Indonesia kemungkinan akan terus membangun jalan tol.

Di kalangan negara-negara di Asia, panjang jalan tol di Indonesia sangatlah tertinggal. Sebut saja Tiongkok yang panjang jalan tolnya mencapai 15 ribu km. Sementara Indonesia, per akhir 2019, panjang jalan tolnya hanya 2.093 kilometer (km). Naik tajam dibandingkan 2014 yang panjang jalan tolnya hanya 795 km. Periode 2020-2024, akan dibangun tol baru sepanjang 2.500 km.

Dari hitungan Delameta, kata Tri Bayu, tol yang sudah masuk tahap persiapan dan sudah digambar mencapai 5.000 km, di mana yang sudah dibangun 2.000 km. Adapun sisanya masih dalam tahap perencanaan. "Melihat data itu, potensi bisnis sistem pembayaran transportasi sangat besar. Apalagi, ada bisnis replacement, karena biasanya perangkat harus diganti setelah masa pakai lima tahun," kata Tri Bayu.

Dia menuturkan, bisnis sistem pembayaran transportasi menggeliat sejak mandatori penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol. Hal ini mendorong operator mencari sistem pembayaran andal yang dapat mendukung operasional. Pada titik ini, perusahaan sistem pembayaran membantu operator menjalankan bisnis secara efisien, mencegah terjadinya fraud, dan memperlancar arus keluar masuk kendaraan.

Delameta, kata dia, menawarkan sistem pembayaran jalan tol yang komplet, mulai dari automatic vehicle classification (AVC), loop vehicle sensor, collecting terminal machine, infra merah, palang atau lane barrier system, electronic toll collection (ETC), CCTV, variable message sign (VMS), hingga plate recognition. Sistem pembayaran Delameta sudah dipasang di 21 ruas tol, seperti Jagorawi, Jakarta-Tangerang, dan Balikpapan-Samarinda.

Dia menerangkan, sistem pembayaran transportasi akan naik lebih kencang jika sistem fee base income diterapkan. Sebab, dalam skema ini, operator tidak perlu berinvestasi lagi di sistem pembayaran, melainkan dipasok oleh perusahaan seperti Delameta. Operator tinggal membagi hasil operasional tol dengan perusahaan sistem pembayaran. "Kami sedang menjajaki skema ini dengan beberapa operator tol," tegas dia.

Bayu menambahkan, bisnis sistem pembayaran transportasi juga telah merambah pelabuhan. Delameta kini menyediakan sistem pembayaran akses (gate pass) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Sistem ini terdiri atas reader, AVC sensor, automatic lane barrier (ALB), customer display panel (CDB) yang menampilkan tarif, golongan, dan sisa saldo, lalu CCTV lajur.


Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit menegaskan, bisnis jalan tol tahan (resilience) dari dampak pandemi Covid-19. Buktinya proses pemulihan sektor ini sangat cepat. Selain itu, BUMN tol, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) masih mencetak untung semester I tahun ini dan diprediksi berlanjut hingga akhir tahun.

Dia menegaskan, ada dua hal yang menjadi perhatian BPJT selama pandemi Covid-19. Pertama, keyakinan konsumen bahwa jalan tol masih aman digunakan. Apalagi, sejumlah rest area sudah menerapkan protokol kesehatan ketat. Kedua, dari sisi keyakinan investor, bahwa sektor jalan tol bisa pulih dengan cepat.

Danang menyambut baik kehadiran perusahaan teknologi seperti Delameta yang memberikan solusi pembayaran transportasi. Ini sejalan dengan tahap empat era pengembangan jalan tol, yakni transformasi inovasi dan modernisasi (TIM). "Kami sangat welcome dengan perusahaan yang memberika solusi teknologi. Semakin banyak dan kompetitif, semakin baik," tegas dia.

Plt. Anggota BPJT Unsur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mahbullah Nurdin menegaskan, trafik jalan tol memang sempat turun tajam pada April-Juni 2020 berkisar 50-60%. Bahkan, di beberapa ruas, penurunan mencapai 80%. Namun, memasuki November 2020, trafik sudah mendekati level normal, yakni 90%. Di tol JORR, trafik sudah normal.

Dia menambahkan, pembangunan jalan tol masuk sasaran utama pembangunan infrastruktur 2020-2024. Jalan tol masuk klaster infrastruktur ekonomi, dengan target waktu tempuh jalan utama pulau sekitar 2,2 jam per 100 km. Selama 2020-2024, dia menerangkan, pemerintah menargetkan pembangunan tol baru mencapai 2.000 km dan jalan nasional baru 2.500 km.

Menurut Nurdin, transformasi bisnis jalan tol di Indonesia terdiri atas empat tahap. Pertama, inisiasi yang dimulai pada 1978-2005, lalu konsolidasi 2005-2014, akselerasi 2014-2019, dan TIM pada 2019-2014.

Transformasi berarti penciptaan nilai tambah, lalu inovasi berarti tumbuhnya gagasan baru, serta modernisasi yang menekankan pada pengalaman pengguna tol serta manajemen jalan tol. Modernisasi meliputi sistem transaksi, lalu lintas, dan aset infrastruktur.

"Salah satu modernisasi yang kami lakukan adalah sistem pembayaran. Sistem transaksi tol berubah dari tunai menjadi nontunai. Ke depan, kami akan masuk MLFF (multilane free flow) yang masih dalam tahap pelelangan," kata dia. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA