Hitung Kancing Cukai Rokok, SMI Condong Naikkan

IN
Oleh inilahcom
Senin 23 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Hari-hari ini, kalangan industri rokok dan petani tembakau tengah dilanda galau. Mereka menunggu kepastian tarif cukai hasil tembakau (CHT) alias rokok. Maunya sih enggak naik.

Namun, keputusan di tangan Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati (SMI). Naga-naganya, mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini, memilih untuk mengerek naik cukai rokok.

Kata dia, pemerintah masih terus melakukan formulasi terkait rencana kenaikan cukai rokok pada 2021 dengan mempertimbangkan sejumlah indikator. "Kami akan terus formulasikan kebijakan berdasarkan lima area yang dipertimbangkan," kata Sri Mulyani ketika menyampaikan realisasi APBN edisi November 2020 secara virtual di Jakarta, Senin (23/11/2020).

Menurut Sri Mulyani, lima hal yang dipertimbangkan tersebut yakni mengurangi prevalensi angka merokok pada anak-anak dan perempuan, perlindungan, dan mendukung petani tembakau. Kemudian, mendukung para pekerja pabrik rokok khususnya yang produksinya masih menggunakan tangan, menekan rokok ilegal dan terakhir terkait penerimaan negara.

"Kami masih akan terus formulasikan ini dan akan kami sampaikan pengumuman kalau sudah difinalkan keseluruhan aspek terutama di mana saat kita sedang menghadapi COVID-19," imbuh Sri Mulyani.

Sementara itu, kata dia, pendapatan di sektor cukai merupakan salah satu indikator yang tumbuh positif dalam realisasi APBN hingga Oktober 2020, di tengah sejumlah indikator yang mengalami kontraksi akibat pandemi COVID.

Dalam pemaparan APBN Kita hingga Oktober 2020 realisasi penerimaan cukai mencapai Rp134,92 triliun atau tumbuh 10,23 persen dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai Rp122,40 triliun.

Adapun target cukai dalam APBN 2020 sesuai Perpres 72 tahun 2020 mencapai Rp172,20 triliun. Dari realisasi itu, cukai hasil tembakau mendominasi dengan pencapaian sebesar Rp130,53 triliun atau tumbuh 11,72 persen dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai Rp116,83 triliun. Hingga Oktober 2020, realisasi cukai hasil tembakau sudah mencapai 79 persen dari target Rp164,94 triliun.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (FSP RTMM), Sudarto mengingatkan Sri Mulyani untuk berhati-hati dalam memutuskan cukai rokok. Saat ini, momentumnya jelas tidak tepat.

Di tengah penurunan daya beli, penjualan industri rokok merosot tajam. Hal ini berdampak kepada operasional perusahaan yang linier dengan nasib pekerja. Di sisi lain, kepentingan petani tembakau juga sangat bergantung kebijakan tarif cukai rokok.

Dir mengkhawatirkan, ketika pemerintah menaikkan cukai rokok, industri rokok terpaksa menempuh PHK kepada ribuan karyawannya. Khusus Sigaret Kretek Tangan (SKT), sebaiknya pemerintah tidak mengerek tarif cukai. "Jadi produksi Industri Hasil Tembakau (IHT) terutama di segmen SKT merupakan mata pencaharian utama para buruh pelinting," ujarnya.

Sudarto menyebutkan produksi terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun akibat tekanan regulasi. Agenda rutin tahunan kenaikan cukai membebani para buruh di IHT. "Kami meminta kepada pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai SKT sektor padat karya," ujarnya.

Dia menjelaskan, saat ini, FSP RTMM-SPSI menaungi 244.021 anggota. Hampir 61 persen (148.693 anggota) bekerja sebagai buruh IHT. Mayoritas buruh berada di segmen SKT yang padat karya. "Jumlah buruh IHT ini jauh merosot dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dalam 10 tahun terakhir, tercatat 60.889 orang yang sudah terimbas regulasi yang ketat," katanya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA