Irjen Napoleon Bawa-bawa Nama Bamsoet Disidang

IN
Oleh inilahcom
Rabu 25 November 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Kadiv Hubinter Polri, Irjen Napoleon Bonaparte menyebut Tommy Sumardi, perantara suap dari Joko Tjandra merupakan 'orang' Bambang Soesatyo, Ketua MPR.

Hal itu disampaikan Napoleon saat dihadirkan sebagai saksi perkara dugaan suap pengurusan penghapusan nama Joko Tjandra dalam daftar red notice Polri dengan terdakwa pengusaha Tommy Sumardi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (24/11/2020).

Nama Bamsoet mencuat saat tim kuasa hukum Tommy Sumardi menanyakan kepada Napoleon mengenai "Orang Bapak" yang tertulis dalam BAP Napoleon terkait pertemuan pertamanya dengan Tommy Sumardi.

"Saudara menjelaskan di pertemuan pertama pak Tommy menyampaikan dan menyebut nama Petinggi Polri, kalau saya bandingkan dengan BAP bapak Nomor 18 tanggal 12 Agustus 2020, di situ bapak menceritakan pertemuan pertama, saya bacakan. Pertama kali bertemu Brigjen Prasetijo Utomo bersama Haji Tommy, Brigjen Pol Prasetijo mengenalkan Haji Tommy sebagai orangnya bapak. Saya tanya bapak siapa? Jawabannya ya bapak. Saya tanya lagi, siapa bapak? Dia menyebut ketua MPR, Bambang Soesatyo," kata kuasa hukum Tommy Sumardi saat membacakan BAP Napoleon di persidangan.

Masih dalam BAP, Napoleon mengaku mengingat setahun sebelumnya saat Brigjen Prasetijo Utomo yang ketika itu masih anggota Divisi Hubinter menawarkan untuk memperkenalkannya dengan Bambang Soesatyo yang ketika itu Ketua DPR.

Napoleon sendiri saat itu masih menjabat Sekretaris NCB-Interpol. Napoleon menuturkan, Prasetijo mengajaknya ke rumah Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo di Kompleks Widya Chandra.

"Di situ saya melihat Brigjen Pol Prasetijo dengan Bamsoet sangat dekat sekali," katanya.

Untuk itu, ketika memperkenalkan kepada Napoleon, Prasetijo menyebut Tommy sebagai "orangnya" Bamsoet. Bahkan, dalam BAP disebutkan Napoleon sempat berkomunikasi melalui telepon genggam dengan Bamsoet.

"Pada waktu Brigjen Pol Prasetijo membawa Haji Tommy dan dikatakan kepada saya ini orangnya Bamsoet, untuk meyakinkan kepada saya, saya dihubungkan kepada Bamsoet dan saya bicara dengan Bamsoet melalui telepon. Saya bicara izin ini saya di ruangan Kadivhubinter, pak Ketua baik-baik saja? Ini Brigjen Prasetijo Utomo ada bareng saya, tidak lama saya bicara tapi saya meyakini, bahwa Brigjen Pol Prasetijo dan Tommy sebelumnya sama-sama sudah menelpon ke Bamsoet dan menyambungkan ke saya. Yang lebih meyakinkan saya bahwa Brigjen Prasetijo membawa misi dengan atas sepersetujuan atau permintaan Bamsoet pada pertemuan kedua, " lanjut Kuasa Hukum yang masih membacakan BAP Napoleon.

Kuasa hukum pun mempertanyakan perbedaan keterangan Napoleon. Dalam BAP, Napoleon menyebut nama Bamsoet, sementara saat di persidangan, Napoleon menyebut nama Listyo dan Azis Syamsuddin.

"Pertanyaan saya pak Napoleon tadi bapak buka dengan Kabareskrim, kira-kira kenapa bisa berbeda dengan keterangan ini?, " tanya Kuasa Hukum Tommy ke Napoleon.

"Mengenai pertemuan pertama dan kedua, bapak penasehat hukum mohon dipahami itu pemeriksaan pertama tidak bawa data, jadi tanggal dan waktu masih rancu. Semakin jelas waktu kami direkonstruksi, semakin jelas lagi setelah pada waktu kami praperadilan mendapatkan bukti yang dipegang oleh penyidik. Kami baru ingat lagi tanggalnya," jawab Napoleon.

"Mengenai pertanyaan bapak, statement itu pernyataan itu, sebetulnya dalam BAP saya yang terakhir sebagai tersangka tanggal 17 September 2020 itu saya cabut," tambah Napoleon.

Napoleon menjelaskan alasannya mencabut BAP. Napoleon merasa keterangan tersebut tidak terlalu berhubungan dan berkaitan dengan perkara yang menjeratnya tersebut. Ia pun mengaku cenderung tidak ingin melebarkan masalah yang tidak terkait.

"Tapi kalau bapak tanya yang sesungguhnya terjadi, pada pertemuan pertama itu Haji Tommy memang menceritakan kedekatannya dengan Kabareskrim, yang dibuktikan dengan menenteng membawa seorang Brigjen Prasetijo yang merupakan pejabat utama di Bareksrim dan anak buah Kabareskrim semakin meyakinkan saya bahwa ini bukan orang sembarangan, " terang Napoleon.

Sebelumnya kepada Jaksa, Napoleon menyebut Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin sempat dihubungi Tommy Sumardi untuk meyakinkan Napoleon. Melihat perdebatan antara Tim Kuasa Hukum dan Napoleon, Tim Jaksa Penuntut Umum meminta untuk mengakhiri tanya jawab tersebut.

"Sudah sudah yang mulia saya pikir, ", ucap Jaksa Riri.

"Sabar.. sabarr dulu pak ini ada perbedaan, pada waktu awal saudara saksi menjelaskan ke penuntut umum bukan Bamsoet tapi Azis Syamsuddin. Gimana itu, " tanya Ketua Majelis Hakim,

Muhammad Damis untuk memastikan keterangan Napoleon."Itu betul yang mulia, semuanya betul, " jawab Napoleon.

"Ceritakan kalau begitu, " pinta Hakim.

"Kalau perintah yang mulia saya siap cerita, walau itu pak Bamsoet itu tidak terlalu terkait dalam masalah ini. Tetapi berhubung ini persidangan pembuktian fakta, apalagi saya sudah disumpah, baiklah. Pertama menceritakan kedekatan dengan Kabareskrim dengan menampilkan Brigjen Prasetijo, pejabat utama Bareskrim untuk meyakinkan saya bahwa terdakwa bukan orang sembarangan," terang Napoleon.

"Kedua saudara terdakwa bercerita kepada saya tentang kedekatan dengan beliau sejak berpangkat AKP (Ajun Komisaris Polisi) atau Kapten Polisi, lalu memegang koordinasi enam dapur umum di Jakarta. Kemudian menelepon Azis Syamsudin, dan menyerahkan hp kepada saya untuk saya halo.

Tapi saya yakinkan, bapak Azis ini saya laporkan pak Tommy Sumardi ada di ruangan saya," lanjut Napoleon.

"Ketiga, terima kasih pak penasehat, itu saya juga pada saat itu untuk menyakinkan itu, ditelepon lagi, karena saya tidak terlalu yakin Kabareskrim, ini lebih tinggi lagi, untuk meyakinkan saya sehingga akhir pada pertemuan itu saya merasa permintaan ini dipantau oleh tiga pejabat negara besar," papar Napoleon.

Diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa pengusaha Tommy Sumardi menjadi perantara suap dari terpidana dan buronan perkara cessie Bank Bali Joko Soegiarto Tjandra kepada Irjen Napoleon Bonaparte selaku Kadiv Hubinter Polri sebesar SGD 200 ribu dan USD 270 ribu.

Selain itu, Tommy juga menjadi perantara suap Joko Tjandra kepada Brigjen Prasetijo Utomo senilai USD 150 ribu. Suap tersebut diberikan Joko Tjandra kepada Napoleon dan Prasetijo untuk menghapus nama Joko Tjandra dalam daftar red notice Interpol.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA