Ini Kabar Baik,Pasar Sawit Asia Normal Tahun Depan

IN
Oleh inilahcom
Jumat 04 Desember 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Tiga pasar utama produk minyak sawit Indonesia yaitu India, Tiongkok, dan Pakistan diprediksi pulih tahun depan. Mudah-mudahan ramalannya tidak meleset.

Tren peningkatan permintaan di tiga pasar utama Asia tersebut terlihat pada kuartal ketiga tahun 2020. Ini setelah ketiga negara tersebut mulai membuka kembali akses pelabuhan untuk kegiatan ekspor impor. "Di India, pandemik Covid-19 menyebabkan konsumsi minyak sawit menurun hingga 30%. Pada bulan Oktober, impor minyak sawit turun dari 9,4 juta ton di tahun 2019 menjadi 7,2 juta ton di tahun 2020," kata Dr BV Mehta, Executive Director Solvent Extractors Association of India, saat menjadi pembicara dalam Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2020 New Normal yang diselenggarakan virtual, Jakarta, Kamis (3/12/2020).

Mehta mengatakan, tidak hanya pandemik, penurunan konsumsi minyak sawit ini juga disebabkan adanya kebijakan pemerintah India yakni bea masuk safe guard duty dan dimasukannya RBD palm olein dalam daftar komoditas yang dibatasi.

Sementara, Cao Derong, Presiden Chamber of Commerce for Import and Export of Foodstuffs Native Produce and Animal By-Product China, mengatakan, penurunan konsumsi minyak sawit juga terjadi di Republik Rakyat China. Triwulan I-2020, impor minyak kelapa sawit turun signifikan menjadi 320 ribu ton.

Semenjak bulan itu, ekspor sawit ke Cina terus menyusut. Memasuki Juni 2020, volume impor minyak sawit kembali merangkak naik dengan year-on-year hingga 25,5% seiring dengan kebijakan penanganan wabah Covid-19 oleh pemerintah setempat.

Hal serupa terjadi di Pakistan. Hingga Oktober 2020, impor minyak sawit hanya mencapai 2,3 juta ton. Ketua PEORA (Pakitsan Edible Oil Refiner Association) Abdul Rasheed Jan Mohammad meragukan volume impor minyak sawit akan menjadi 3 juta ton di tahun ini.

Penurunan ini terjadi akibat pandemik pada semester satu dan harga minyak sawit yang tinggi sejak pertengahan tahun. Setidaknya 76% pangsa pasar minyak sawit di Pakistan dikuasai oleh Indonesia.

Ketidakpastian pasar masih membayangi pasar global namun naiknya permintaan pasar minyak nabati karena kebutuhan pangan dan kosmetik dinilai mampu mendorong pertumbuhan pasar industri minyak sawit Indonesia.

Negara-negara importir minyak sawit terbesar Asia dikenal sebagai negara padat penduduk yang mengalami peningkatan populasi tiap tahunnya. Selaras dengan hal tersebut, permintaan pasar diharapkan bisa meningkat di tahun 2021.

Cao Derong mengungkapkan, minyak sawit merupakan minyak nabati impor terbesar di China. Konsumi minyak sawit di China mencapai 40% dari total konsumsi yakni untuk industri kimia. Pada tahun 2019, Cina mengimpor 8,48 juta ton minyak sawit atau 66% dari total impor minyak nabati di Cina. Sementara itu, 6,02 juta ton diantaranya diimpor dari Indonesia. Ia juga menyebutkan dikarenakan permintaan pasar yang cukup tinggi, China sangat bergantung pada impor minyak nabati terutama minyak sawit. "Dengan pemulihan ekonomi yang terjadi di tahun 2021 terutama di industri catering, konsumsi minyak sawit diperkirakan akan meningkat," tutur Cao.

Namun, Cao mengingatkan, dampak kebijakan insentif pemerintah Malaysia bakal memengaruhi pasar China. "Pemerintah Malaysia memiliki kebijakan insentif yang besar untuk mengekspor minyak kelapa sawit ke China. Akibatnya, ada gap harga minyak kelapa sawit antara Malaysia dan Indonesia yang menghasilkan penurunan keseluruhan dalam pengadaan China dari Indonesia," kata Cao.

Sementara, permintaan minyak nabati di India dan Pakistan juga diproyeksikan akan terus meningkat. Mehta menjelaskan Impor minyak kelapa sawit dari Indonesia melebihi impor dari Malaysia, dan merupakan impor minyak nabati tertinggi di India dibandingkan dengan minyak nabati lain. Impor ini masih akan meningkat sejalan dengan peningkatan populasi dan konsumsi.

Mehta menyebutkan, Setidaknya 8,4juta ton hingga 9juta ton sawit, dibutuhkan pasar India pada 2021. Tidak ada angka pasti yang diproyeksikan Pakistan untuk konsumsi minyak sawit. Selain itu, dengan terus meningkatnya harga sawit, dikhawatirkan India dan Pakistan akan kembali menerapkan bea masuk untuk industri sawit. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA