https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   13 December 2020 - 12:00 wib

MUI Pertanyakan Kesamaan Perlakuan Polisi Soal ini

berita-profile

Inilah

0

0

INILAHCOM, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempertanyakan proses terhadap kasus kerumunan lainnya, seperti Pilkada 2020.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, setelah Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab ditahan.

"Pertanyaan saya, kalau Habib Rizieq Shihab diinterogasi dan ditahan karena tindakannya itu, apakah orang lain yang juga melakukan hal yang sama juga sudah diinterogasi dan ditahan? Kalau sudah berarti pihak kepolisian sudah menegakkan hukum dan keadilan dengan sebaik-baiknya," kata Anwar Abbas dalam keterangan tulis, Minggu (13/12/2020).

"Kalau belum, maka berarti pihak kepolisian belum lagi menegakkan hukum dengan sebaik-baiknya dan dengan seadil-adilnya," lanjutnya.

Anwar Abbas berujar, untuk berlaku adil, aparat memang harus memiliki data jumlah korban Covid-19 imbas kerumunan yang ditimbulkan Rizieq Shihab.


Kemudian data ini dibandingkan dengan jumlah korban yang timbul atas kerumunan lain, seperti yang terjadi karena pilkada.


"Oleh karena itu akal sehat kita tentu saja akan bertanya berapa jumlah korban yang jatuh sakit atau meninggal gara-gara kerumunan yang dilakukan oleh Habib Rizieq dan oleh acara-acara yang lain serta oleh pilkada? Tapi dalam konteks pilkada dari beberapa media saya tahu bahwa jumlah petugas KPPS yang sudah terbukti reaktif Covid-19 adalah 79.000 orang dan yang meninggal juga cukup banyak," papar dia.

Sebagai negara hukum, kata Anwar Abbas , pelaku pemicu kerumunan dalam pilkada juga mesti diadili layaknya Imam Besar FPI itu.

Jika hal ini sudah dilakukan, aparat sudah layak untuk disebut profesional. Namun jika sebaliknya, maka ia menganggap akan timbul masalah di kemudian hari.

"Tapi kalau mereka tidak bisa melakukan hal tersebut dengan baik dan dengan seadil-adilnya maka yang akan terjadi adalah bencana dan malapetaka dan itu jelas sama-sama tidak kita inginkan," tutup dia.







 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan