Refleksi Ekonomi 2020

Pertumbuhan Ekonomi Sering Meleset, Bu Sri Mulyani

IN
Oleh inilahcom
Kamis 31 Desember 2020
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang 2020, angka pertumbuhan bolak-balik diturunkan. Pertanda memang sulit memprediksi ekonomi karena pandemi COVID-19, atau terlalu percaya diri?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkali-kali merombak proyeksi ekonomi. Namun tetap saja meleset. Pada Mei-Juni 2020, pemerintah masih optimistis bahwa perekonomian masih bisa di atas 0% alias positif. Kemudian pada September-Oktober 2020, ekspektasi terjun bebas menjadi tumbuh hanya 0%.

Di akhir tahun, Sri Mulyani kembali memelorotkan angka pertumbuhan ekonomi hingga di bawah nol alias negatif. Yakni di rentang minus 2,2% hingga minus 1,7%.

Sejatinya, tak hanya Sri Mulyani yang kelabakan memprediksi makroekonomi, lembaga dunia lain seperti Asian Development Bank (ADB), sami mawon. Bolak-balik merevisi prediksinya. Pada Mei-Juni 2020, ADB masih yakin Indonesia bisa tumbuh 1% pada 2020, tetapi berubah pada Desember 2020 menjadi kontraksi 2,2%.

Setali tiga uang, Bank Dunia awalnya meyakini ekonomi Indonesia bisa tumbuh 0% pada 2020 (Mei-Juni), menjadi kontraksi 2,2% (Desember). Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) juga mematok pertumbuhan Indonesia 2020 di level minus 2,2% per Desember.

Prediksi mutakhir Sri Mulyani ini, dilandasi sejumlah estimasi pada pertumbuhan pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB). Konsumsi rumah tangga masih akan terkontraksi 2,7 sampai 2,4%. Konsumsi pemerintah kontraksi 0,3 sampai positif 0,3%. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) kontraksi 4,5% sampai 4,4%. Ekspor terkontraksi 6,2% sampai 5,7% dan impor terkontraksi 15% sampai 14,3%.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal mengatakan pertumbuhan Indonesia di 2020, sulit beranjak dari zona negatif. Penyebabnya, jauhnya ekspektasi di kuartal-IV. Karena konsumsi masyarakat masih terpuruk, padahal komponen ini memegang porsi 57,31% dalam struktur perekonomian nasional. "Kondisi terakhir Q4 banyak di bawah ekspektasi terutama konsumsi. Jadi pertumbuhan bakal lebih rendah," ucap Faisal.

Data Indeks Penjualan Riil (IPR) terus menunjukan penurunan mengindikasikan konsumsi masyarakat masih belum pulih. Nilainya memburuk dari kontraksi 8,7% pada September, menjadi kontraksi 14,9% pada Oktober. Selanjutnya, November diperkirakan akan semakin memburuk menjadi kontraksi 15,7%.

Inflasi inti yang mengukur daya beli juga terus menurun. Per November 2020 inflasi inti year on year (yoy) menurun ke 1,67%. Lebih rendah dari 1,74% (Oktober 2020). Alias melanjutkan pelemahan yang sudah terjadi sejak bulan Maret 2020.

Bicara tahun depan, Faisal pesimis bahwa pertumbuhan ekonomi bisa bertengger di angka 5%.Prediksi CORE untuk pertumbuhan ekonomi 2021, tidak akan jauh-jauh dari di 3%.

Sejalan dengan itu, lembaga dunia juga sudah beramai-ramai memangkas prediksi Indonesia 2021. ADB awalnya meyakini ekonomi Indonesia pada 2021 bisa tumbuh 5,3% (September-Oktober), tetapi direvisi menjadi 4,5% (Desember).

Bank Dunia pada Maret-April 2020, meyakini pertumbuhan 2021 Indonesia 5,2% tetapi diubah menjadi 4,4% pada Desember. OECD per September-Oktober meyakini pertumbuhan di 5,3% tetapi berubah menjadi 4% per Desember 2020.

Bukan tak mungkin angka 5% milik pemerintah RI juga akan direvisi ke bawah lagi. "Ada kemungkinan 2021 pemerintah mengubah target 5% melihat kondisi Q4 2021," ucap Faisal. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA