Tahu dan Tempe Menghilang, Bahan Bakunya Mahal

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 02 Januari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Memasuki 2021, emak-emak di ibu kota harus kecewa lantaran tahu dan tempa menghilang di pasar. Di tempat belanja sayur-mayur pun tak ada. Awal tahun yang bikin miris.

Siti Nur Handayani (40), ibu rumah tangga di kawasan Warung Silah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengaku sulit mendapatkan tahu dan tempe di pasar. Demikian pula di tempat belanja di dekat rumahnya, menghilang. "Katanya memang tak ada tahu dan tempa. Karena pengrajinnya tidak produksi, kedelai mahal," ungkap ibu dua anak ini.

Handayani betul. Sejak akhir 2020, pengrajin tahu dan tempe yang termasuk industri kelas usaha kecil dan menengah (UKM), sepakat untuk tidak produksi. Bukan lantaran libur akhir tahun, namun dipantik mahalnya harga kedelai. Bahan baku utama tahu dan tempe.

Sedikitnya, lima ribu UKM yang tergabung Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta menghentikan sementara produksi pada 1-3 Januari 2021.

Sekretaris Puskopti DKI Jakarta, Handoko Mulyo mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap kenaikan harga bahan baku kedelai dari Rp7.200 menjadi Rp9.200 per kilogram (kg). "Mulai tanggal 1 Januari 2021 sampai 3 Januari 2021, pengrajin tempe tahu, berhenti produksi," kata Handoko, Jumat (1/1/2021).

Handoko mengatakan, aksi mogok produksi itu telah disampaikan kepada sekitar 5.000 produsen maupun pedagang tahu dan tempe di DKI Jakarta, melalui surat nomor 01/Puskopti/DKI/XII/2020 yang dikeluarkan Puskopti DKI Jakarta pada 28 Desember 2020.

Seruan mogok kerja itu juga disampaikan Handoko kepada jajaran pengurus di wilayah Provinsi Jawa Barat. Keputusan untuk menghentikan sementara proses produksi, kata Handoko, disepakati jajaran pengurus Puskopti pada Kamis 31 Desember 2020. "Malam Sabtu sampai malam Minggu, tanggal 2 Januari 2021 semua tidak berjualan. Malam Senin tanggal 3 Januari 2021 sudah ada penjualan di pasar," ujarnya.

Namun Puskopti mengimbau kepada seluruh anggota untuk menaikkan harga jual tahu dan tempe minimal 20 persen dari harga awal untuk mengantisipasi kerugian. "Kami juga sudah berkomunikasi dengan jajaran pengurus di Jawa Barat agar kenaikan harga dilakukan secara kompak," katanya.

Selama aksi mogok kerja berlangsung, kata dia, seluruh anggota dilarang untuk berbuat anarkis atau melanggar aturan hukum. "Perbuatan melanggar hukum ditanggung sendiri akibatnya," katanya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag), Suhanto menegaskan, persediaan kedelai saat ini, mencukupi kebutuhan industri tahu dan tempe nasional.

Dia mengatakan, Kementerian Perdagangan menjamin ketersediaan tahu dan tempe di masyarakat. Terkait kenaikan harga kedela, Suhanto mengatakan, Kemendag telah berkoordinasi dengan Gakoptindo dan memperoleh informasi bahwa harga kedelai impor di tingkat perajin mengalami penyesuaian dari Rp9.000/kg pada November 2020 menjadi Rp9.300-9.500/kg pada Desember 2020 atau naik sekitar 3,33-5,56 persen.

"Kementerian Perdagangan terus mendukung industri tahu tempe Indonesia. Dengan penyesuaian harga, diharapkan masyarakat akan tetap dapat mengonsumsi tahu dan tempe yang diproduksi oleh perajin," kata Suhanto dalam keterangan resmi pada Kamis (31/12/0220).

Suhanto menyampaikan, berdasarkan data Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo), saat ini para importir selalu menyediakan stok kedelai di gudang importir sekitar 450.000 ton. "Apabila kebutuhan kedelai untuk para anggota Gakoptindo sebesar 150.000 sampai 160.000 ton per bulan, maka stok tersebut seharusnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan 2 sampai 3 bulan mendatang," ujarnya.

Suhanto menjelaskan bahwa harga kedelai dunia tercatat sebesar mencapai US$12,95 per bushels, atau naik 9 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level US$11,92 per bushels.

Adapun berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat sebesar US$461 per ton atau naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat US$435 per ton.

Menurut Suhanto, faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia adalah lonjakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Pada Desember 2020 permintaan kedelai China naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia.

"Untuk itu perlu dilakukan antisipasi pasokan kedelai oleh para importir karena stok saat ini tidak dapat segera ditambah mengingat kondisi harga dunia dan pengapalan yang terbatas. Penyesuaian harga dimaksud secara psikologis diperkirakan akan berdampak pada harga di tingkat importir pada Desember 2020 sampai beberapa bulan mendatang," tambah Suhanto. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA