Inflasi 2020 Cuman 1,68%, Daya Beli Babak Belur?

IN
Oleh inilahcom
Senin 04 Januari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat inflasi sepanjang 2019 hanya mencapai 1,68%, terendah dalam setengah abad terakhir. Rendahnya inflasi bisa jadi potret daya beli babak belur.

Inflasi pada Desember mencapai 0,45% secara bulanan. Disumbang kenaikan harga cabai merah, telur ayam ras, hingga tarif angkutan udara.

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Setianto menjelaskan, inflasi secara bulanan terus meningkat sejak Oktober. Inflasi pada Desember lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,14%. Inflasi pada bulan terakhir 2020 terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai merah, telur ayam ras, dan tarif angkutan udara.

"Dari 90 kota, 87 kota mengalami inflasi dan 3 kota deflas. Inflasi tertinggi terjadi di Gunung Sitoli sebesar 1,87% utamanya karena kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Luwuk," ujar Setianto dalam Konferensi Pers Pengumuman Inflasi, Senin (4/1/2020).

Kelompok makanan dan minuman memberikan andil terbesar terhadap inflasi Desember mencapai 0,38% dengan inflasi mencapai 1,49%. Inflasi kelompok ini sepanjang 2020 mencapai 3,63%. "Inflasi kelompok makanan dan minuman pada Desember meningkat terutama disumbang oleh cabai merah dengan andil 0,12% telur ayam ras 0,06% cabai rawit 0,05%," katanya.

Kelompok transportasi memberikan andil terbesar kedua pada inflasi bulan lalu mencapai 0,06% dengan kenaikan harga atau inflasi sebesar 0,46%. Ini terutama disebabkan oleh kenaikan tarif angkutan udara yang memberkan andil 0,05%. Namun untuk keseluruhan taun lalu, kelompok transportasi mengalami deflasi 0,85%.

Selain itu, menurut dia, kelompok penyedia makanan dan minuman memberikan andil mencapai 0,02% pada inflasi Desember. Sedangkan untuk keseluruhn tahun, kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 2,26%.

Kelompok pengeluaran kesehatan menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua untuk sepanjang 2020 dengan inflasi sebesar 2,79%. Namun, kelompok pengeluaran ini tak memberikan andil inflasi pada Desember.

Berdasarkan komponennya, harga yang bergejolak menjadi penyumbang utama inflasi pada Desember maupun sepanjang 2020 dengan kenaikan harga sebesar 2,17% dan andil mencapai 0,36%. Inflasi pada komponen harga yang bergejolak tercatat 3,62% untuk sepanjang 2020.

Komponen pada harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 0,36% dengan andil 0,06% pada Desember, sedangkan tingkat inflasi pada kelompok ini untuk sepanjang 2020 sebesar 0,25%. Sementara itu, inflasi inti secara bulanan kembali menurun dari bulan sebelumnya 0,06% menjadi 0,05% pada Desember. Andil inflasi hanya mencapai 0,03%, sedangkan inflasi untuk komponen ini sepanjang 2020 tercatat 1,6%.

Laju inflasi pada sepanjang 2020, merupakan yang terendah sejak 1970 jika mengutip data Universitas Indonesia (UI). Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan inflasi 2020 sebesar 1,66% secara tahunan. "Dipengaruhi oleh penurunan permintaan barang secara signifikan pada awal hingga pertengahan tahun akibat pandemi yang mendorong penurunan daya beli masyarakat," ujar Josua.

Inflasi pada Desember 2020 diramal meningkat menjadi 0,42% secara bulanan. Inflasi terkerek oleh peningkatan harga komoditas pangan, terutama untuk bahan bumbu masakan, seperti cabai rawit yang naik 36,53% secara bulanan dan cabai merah 22,34%. Kenaikan harga produk bumbu ini didasari oleh musim penghujan sehingga pasokan dari produk tersebut terganggu.

Selain itu komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga. Semisal harga beras naik 0,42%, daging sapi 0,51%, telur ayam 8,16%, dan bawang putih 1,6%. Inflasi juga diperkirakan didorong oleh kenaikan dari sisi permintaan secara umum, yang diindikasikan oleh inflasi inti yang diperkirakan sebesar 1,66% secara tahunan.

Dari sisi harga yang diatur pemerintah, Josua menyebutkan bahwa harga juga cenderung meningkat seiring dengan peningkatan perjalanan darat akibat libur panjang. "Seiring dengan proyeksi pemulihan pada 2021, inflasi akan kembali berada pada target pemerintah sebesar 2-3%," katanya. [ipe]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA