Tahun 2020 Properti Lesu, Tahun Ini Bagaimana?

IN
Oleh inilahcom
Rabu 06 Januari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Tahun 2020 menjadi tahun suram untuk bisnis properti, lantaran diserang badai bernama pandemi COVID-19. Tahun ini ada peluang bangkit, tapi ada syaratnya,

Pemulihan kinerja sektor properti, secara nasional dinilai tergantung kepada sejumlah hal. Terutama menyangkut efektivitas vaksin COVID-19, sehingga dapat mengatasi pandemi serta memulihkan kembali kondisi perekonomian di Indonesia.

"Saya tidak mau terlalu super optimistis bahwa semester II-2021 akan ada perbaikan kinerja sektor properti. Idealnya seperti itu, tetapi tergantung antara lain kepada efektivitas vaksin yang terbukti," kata Senior Associate Director Colliers International, Ferry Salanto di Jakarta, Rabu (6/1/2021).

Konsultan properti itu memaparkan sejumlah bidang komersial dalam sektor properti sangat terdampak pandemi seperti sektor ritel yang tidak ada pasokan baru pusat perbelanjaan pada tiga bulan terakhir 2020.

Sedangkan untuk harga sewa di sejumlah mal, menurut dia, meski cenderung stabil selama enam bulan terakhir, tetapi tarif sewa ruang di pusat perbelanjaan di Jakarta turun sekitar 7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Begitu pula halnya dengan perhotelan. Menurut Ferry, kondisi kinerja sektor perhotelan di Jakarta belum sepenuhnya membaik karena sejak awal pandemi. Kinerja hotel turun drastis dan bahkan ada yang sampai menutup operasional mereka.

Namun demikian, kata dia, di Jakarta masih ada pasar staycation (berlibur dengan menginap di hotel) yang dapat digali, terutama setiap ada libur panjang. Hal itu penting karena dukungan dari pasar pemerintahan dan korporasi dinilai surut pada 2020.

Tidak hanya di Jakarta, di sejumlah lokasi destinasi pariwisata seperti Bali juga masih banyak hotel yang berjuang karena terjadinya penurunan drastis jumlah wisatawan. "Saat ini Bali sangat bergantung kepada wisatawan domestik," katanya.

Ferry menegaskan setelah vaksin didistribusikan dan terbukti efektif, diperkirakan menjadi hal penting guna menggerakkan kembali sektor pariwisata di Bali.

Ia juga mengemukakan faktor lainnya adalah implementasi regulasi pemerintah terhadap penerjemahan UU Cipta Kerja yang juga akan sangat berpengaruh kepada properti. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA