https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   07 January 2021 - 16:38 wib

Prabowo dan Sandi Masuk Kabinet, Jokowi Menang 2-0

berita-profile

Inilah

0

0

INILAHCOM, Semarang - Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menarik dua bekas lawan politik di Pilpres 2019, sangat tepat. Ibarat sepak bola, Jokowi unggul telak dengan skor 2-0.

Hal itu disampaikan pengamat politik Universitas Negeri Semarang, Cahyo Seftyono, bahwa pertarungan politik Presiden Jokowi dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, sudah selesai dengan kemenangan Jokowi dengan skor 2-0.

Kata Cahyo, walaupun penampilannya terkesan lugu, Jokowi adalajh politisi ulung, cerdik dan pandai bersiasat. "Kepiawaian Jokowi menaklukkan rival tangguhnya dalam pilpres 2019 yang lalu, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno merupakan contoh gamblang,” urai dosen Kebijakan Publik ini.

“Sesumbar Prabowo bahwa dirinya akan timbul-tenggelam bersama rakyat, dan kata-kata manis Sandi bahwa dia tak tertarik masuk kabinet, sirna sudah. Keduanya kini lempar handuk, duduk manis dengan baju putih, menjadi bawahan langsung Jokowi," imbuh Cahyo.

Cahyo mengingatkan kembali bagaimana kerasnya pertarungan politik di Pilpres 2019. Dalam beberapa kesempatan Prabowo dan Sandi, lancar sekali melontarkan kritik kepada Jokowi. Namun, semuanya tak berumur lama. Hanya dalam setahun, kata-kata tajam keduanya, berubah menjadi pujian dan sanjungan setinggi langit kepada mantan rival. “Banyak orang kini risih mendengar sanjungan Prabowo untuk Jokowi,” ungkap Cahyo yang sering meneliti isu-isu politik lokal, ”Seperti lagu “Macane Dadi Kucing” (macannya jadi kucing), yang belakangan menjadi populer.

Dengan gayanya yang khas dan tenang, Jokowi memainkan strategi 'memangku lawan' dengan memberi pangkat atau jabatan sehingga lawannya senang, padahal Jokowi menang lebih besar. "Seolah-olah seperti diangkat tapi sebenarnya dijatuhkan," kata Cahyo.

Analisa Cahyo, masuknya Prabowo dan Sandi ke Kabinet Jokowi ini membuat keduanya kalah dua kali. Pertama, Prabowo-Sandi dikalahkan Jokowi pada Pilpres 2019. Kalau hanya ini, kata Cahyo, kedua tokoh politik ini bisa saja maju lagi di tahun 2024, apalagi Jokowi tak lagi jadi rival.

Kedua, “Sekarang, berapa banyak rakyat yang masih percaya kepada dua politisi ini?” tanya Cahyo retoris, “Prabowo dan Sandi dianggap ingkar janji, mengkhianati para pendukungnya, yang dulu berjuang habis-habisan. Mereka bilang berjuang untuk rakyat, tapi ujungnya hanya untuk kepentingan pribadinya. Karakter Prabowo dan Sandi jatuh dan hancur, oleh perbuatan mereka sendiri.”

Cahyo tidak tahu pasti apakah manuver Jokowi menjadikan Prabowo dan Sandi sebagai menteri itu untuk memperkuat basis dukungan terhadapnya, atau memang untuk menghancurkan karakter dan nama baik bekas penantangnya itu. Dalam amatan Cahyo, para pendukung Prabowo-Sandi yang besarnya sekitar 45% dari total pemilih pilpres 2019 tidak serta merta berbalik mendukung.

Di media sosial (medsos), maupun dalam di pasar, terminal, pengajian, arisan maupun ruang-ruang publik lainnya, kritik terhadap pemerintah masih lantang. Yang jelas, kata Cahyo, Jokowi berhasil mengalahkan suara Prabowo-Sandi dalam Pilpres dan kini berhasil meruntuhkan reputasi keduanya di mata para pendukung. “Apapun yang ada dalam pikiran pak Jokowi, maupun pak Prabowo dan Sandi, yang jelas saat ini Jokowi menang lagi dan Prabowo-Sandi kalah lagi. Kalah dua kali. Selamat Pak Jokowi,” kata Cahyo. [tar]

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan