Ratusan WNA Sudah "Diusir" Dari Bali

IN
Oleh inilahcom
Rabu 20 Januari 2021
share
Kemenkum HAM Provinsi Bali, mendeportasi dua perempuan WNA, Kristen Antoinette Gray dan Saundra Michelle Alexander setelah viral pemberitaan cuitan ajakan bagi orang asing pindah ke Bali pada masa pandemi Covid-19 - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Denpasar - Sebanyak 157 warga negara asing (WNA) tercatat dideportasi dari Bali, oleh KemenkumHAM wilayah setempat selama 2020.

"157 orang yang sudah diusir dari Bali selama tahun 2020, bukan karena viral. Jadi seakan-akan Kemenkumham Bali bekerja karena diviralkan, tapi kami tetap bekerja sepanjang tahun," kata Kepala Kantor Wilayah KemenkumHAM Bali Jamaruli Manihuruk saat ditemui di Kantor KemenkumHAM Bali, Denpasar, Rabu (20/1/2021).

Sementara awal tahun 2021, ada dua warga asing yang dideportasi dari Bali karena melanggar keimigrasian.

"Kalau patut kami deportasi, ya dideportasi kalau enggak ya masih bisa di Indonesia. Data yang sudah dideportasi di 2020, diperoleh dari kantor Imigrasi Singaraja, Kanim TPI I Denpasar, Kanim TPI I Ngurah Rai dan Rudenim," tandasnya.

Ia mengimbau para orang asing yang berada di Bali agar mengikuti prosedur pengurusan visa dan jangan menyalahgunakan izin tinggal.

"Kami juga akan selalu ada di lapangan, kalian berbuat salah ya kami ada disana, jangan sampai menjadi bagian dari 157 itu, tambahan dari itu. Jadi untuk tahun ini lima orang yang dideportasi," katanya.

Salah satu bentuk pelanggaran keimigrasian hingga dilakukan deportasi, yaitu keberadaan warga asing dengan visa kunjungan untuk bekerja.

Kakanwil mengatakan sampai saat ini belum ada aturan yang memperbolehkan mereka untuk bekerja kalau memang kedatangannya pada saat ke Indonesia bukan untuk bekerja.

"Belum ada aturan yang memperbolehkan seperti itu. Biasanya menurut beberapa turis asing yang kami wawancara mereka mendapatkan kiriman dari negaranya, apakah dari keluarganya atau negara enggak tahu tapi masih mendapatkan kiriman uang," katanya.

Ia menegaskan hingga saat ini belum ada aturan yang memperbolehkan bekerja di Bali, karena dikhawatirkan, jika dibiarkan, maka bisa jadi pekerjaan lokal jadi diambil alih.

"Yang kami harapkan umumnya adalah tenaga ahli (asing) menularkan ilmunya ke tenaga lokal. Jadi seperti itu yang kami harapkan masuk di Indonesia. Kalau hanya sekedar jalan-jalan apakah ahli? Dan itu prosesnya bukan hanya di sini tapi harus ke Jakarta, juga ke ketenagakerjaan," pungkasnya. [tar]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA