Gores Sejarah, Kamala Harris Resmi Jadi Wapres AS

IN
Oleh inilahcom
Kamis 21 Januari 2021
share
 

INILAHCOM, Washington DC - Kamala Harris menggores sejarah baru saat resmi dilantik sebagai Wakil Presiden AS, mendampingi Presiden Joe Biden, pada Rabu (20/1/2021).

Harris menjadi perempuan pertama, sekaligus orang kulit hitam pertama Amerika dan orang Amerika pertama keturunan Asia yang memegang jabatan tertinggi kedua di negeri adikuasa itu

Politisi berusia 56 tahun ini dilantik oleh Hakim Agung Sonia Sotomayor dan mengucapkan sumpah jabatannya di atas dua Alkitab bersejarah, yakni satu milik kerabatnya, Regina Shelton, yang dianggap sebagai ibu kedua Harris dan satu lagi milik Thurgood Marshall, warga keturunan Afrika-Amerika pertama yang menjadi hakim agung di Mahkamah Agung AS.

"Saya Kamala Devi Harris bersumpah dengan sungguh-sungguh untuk mendukung dan membela Konstitusi Amerika Serikat melawan semua musuh, asing dan domestik; bahwa saya akan memberikan keyakinan dan kesetiaan sejati yang sama; bahwa saya akan menerima kewajiban ini dengan bebas, tanpa reservasi mental atau tujuan penghindaran; dan bahwa saya akan dengan baik dan setia menjalankan tugas-tugas jabatan yang akan saya masuki. So help me, God," kata Harris saat mengucapkan sumpahnya.

Ke depan, Harris dipandang sebagai pesaing untuk pencalonan presiden Partai Demokrat pada 2024 jika Biden, yang saat ini berusia 78 tahun, memutuskan untuk tidak mengejar masa jabatan kedua.

Harris lahir di Oakland, California, dari dua orang tua imigran; seorang ibu kelahiran India dan ayah kelahiran Jamaika.

Setelah berkarir sebagai jaksa tinggi dan jaksa agung, Harris maju sebagai senator dari negara bagian California pada 2017.

Ia telah mendobrak banyak tradisi, dengan menjabat sebagai perempuan pertama sebagai jaksa wilayah di San Francisco serta perempuan kulit berwarna pertama yang terpilih sebagai Jaksa Agung California.

Dengan latar belakang yang dimilikinya dalam peradilan pidana, Harris dapat membantu pemerintahan Biden menangani masalah kesetaraan dan penegakan hukum rasial, setelah negara itu dilanda gelombang protes tahun lalu.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA