Pungli Masih Tinggi, Bos Bahlil Ngeri-ngeri Sedap

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 23 Januari 2021
share
 

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengaku adanya anomali dalam rantai investasi di Indonesia yang tumbuh, namun tidak seiring pertumbuhan ekonomi.

Menurut Bahlil, persoalan ini diakibatkan masih maraknya aksi pungutan liar (pungli). "Ternyata ekor kita ini tinggi, ekor kita itu 6,6 persen ini yang membuat biaya mahal, biaya pungli macam-macam lah. Bapak-bapak CEO pasti tahu," kata Bahlil saat menjadi pembicara di Kompas100 CEO Forum ke-11, Kamis (21/1/2021).

Dia menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi pengusaha di mana biaya pungli membuat nilai produk menjadi tidak kompetitif. "Saya dulu jadi pengusaha biasanya biaya abu nawas (pungli, red) paling mahal. Nah, biaya abu nawas ini hanya bisa diselesaikan dengan cara transparan," tukasnya.

Bahlil menegaskan, untuk menghilangkan stigma pungli ini, pemerintah hanya mengeluarkan perizinan berbasis elektronik atau Online Single Submission (OSS). BKPM juga terus berupaya memudahkan izin berusaha melalui kemudahan akses, kecepatan, transparansi, dan lebih murah.

Menurut catatan BKPM, rasio produktivitas atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia saat ini masih mencapai 6,6 persen. Angka itu lebih tinggi dari negara tetangga seperti Malaysia 4,5, Filipina 3,7, Thailand 4,4 dan Vietnam 4,6. Artinya, semakin tinggi ICOR maka tingkat efisiensi memeroleh izin berusaha semakin rendah. [ipe]


# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA